Senin, 26 Agustus 2013

SAHABAT DUA DUNIA


Suara gemeretakan gigi begitu kentara terjalin disebuah ruangan pengab beriringan dengan degup jantung yang memberontak di dada, kedua remaja laki-laki mengendap-endap dan bergidik. Patahan ranting pinus digenggamnya erat-erat. Mereka terdiam lama membisu, jangankan bergerak, menghembuskan nafas saja mereka enggan.
Tiba-tiba suara ledakan terdengar dari luar. Teriakan senjata-senjata mengaum melontarkan peluru-peluru liar dan mencabik apa saja yang ada dihadapannya. Kedua anak muda itu makin bergidik.
“Apa ini perang Dar?” tanya Gredan polos, matanya terpejam, ia ketakutan sekali.
“Bukan, ini perjuangan sobat. Bagaimana? Kau mau maju bersamaku?” lesung pipitnya muncul dalam senyuman liarnya. Gairah begitu terasa diantara mereka. Namun rekannya yang masih terpejam mendadak lemah lesu ketakutan, ia menggeleng sekuat tenaga dan tangannya memegang erat lengan Daryo.
Dentuman gedebuman koar-koar makin menggelegar bagaikan Guntur tanpa petir. Suasana makin terpuruk dan mereka terpojok ketika tiba-tiba saja pintu menjeblak terbanting membuka. Tiga orang berbadan kekar, tegap dengan senjata menggelayuti tubuh mereka memburu beringas tanpa suara kearah dua anak muda yang menggigil bukan karena kedinginan.


Pohon-pohon berdiameter besar masih berdiri kokoh setia memayungi kawasan asri sebuah  rumah bambu yang koyak dengan halaman yang luas. Mata hijaunya merem melek, berjengit-jengit nyaman diatas sebuah kursi goyang peyot yang mengayun dramatis. Beberapa kumpulan pinus dan beringin melambaikan pelan daunnya ramah. Menyapa sosok rapuh dan ringkih yang sedang menyunggingkan senyum damai.
Senyum sapa untuk sahabat lama. “seandainya waktu tak pernah terampas dariku” tangan berkeriput putih pucat melambai pada udara seakan-akan ingin menyentuh sesuatu yang tak kelihatan, kepalanya mendongak perlahan keatas menatapi langit mendung sendu sambil terpejam mengenang saat-saat itu.
Saat-saat dimana ia dalam koar-koar gairah muda dan kekanak-kanakkan berlari-lari hinggap dari satu pohon ke pohon lain layaknya kupu-kupu bersayap panjang yang bebas menari-nari kemana saja, berkejar-kejaran bersama teman main dan justru tertawa keras ketika direngkuh lawan pertanda  tertangkap dalam permainan petak umpet, lalu mereka berteriak tak ada beban, tak ada sesenggukkan, yang ada hanya keceriaan walau didominasi musim kelabu saat itu. Dua bocah yang penuh peluh bersandar pada batang pohon berlubang langganan mereka, bersenda gurau dan saling menyikut sebentar kemudian tertidur.
“Kau masih ingat bagaimana aroma pepohonan ini, dapat kau hirup?”suara parau terdengar begitu jelas pada liang telinganya, dari suaranya yang parau dan terdengar ringkih dapat ditebak berasal dari tua renta juga seperti dirinya
“Daryo? Astaga! Kaukah itu Daryo? Sungguh Daryo Si Picak?” jerit lemah lelaki tua itu berpaling, matanya langsung tertuju pada sosok anggun yang sedang berdiri dengan gagah, gelagat lelaki tua di kursi goyang itu bagaikan bertemu hantu sekaligus bertemu kekasih. Tubuhnya gemetaran tak percaya akan rupa yang sedang dilihatnya. Sang lawan bicara hanya bisa tertawa. Tawa yang getir.
“Kau sudah pikun rupanya kawan. Aku bukan Daryo si Picak. Aku Daryo si Pitak” suaranya bergema didinding bambu yang catnya sudah terkelupas. Ia terbahak-bahak melihat sahabatnya yang linglung. Masih dalam keadaan terbahak Daryo mengangkat sedikit topinya menunjukkan bekas goresan bagaikan petak kecil pada ubun-ubunnya. Pitak!
“Kau setua ini dan tak pernah mengunjungiku? Sahabatkah itu? Kau tak tahu sebegitu rindunya ku padamu. Pohon-pohon didepan mataku ini sudah kuanggap seperti kau Pitak!” ia mengomel pada Daryo yang masih tak henti terbahak sambil mengusap-usap punggung tangannya yang berkulit gelap.
“Aku sembunyi Gredan, dari para pelahap maut. Kau tak tahu perjuangan hidupku sejak kita terpisah saat usia 14 tahun.” Suaranya lebih seperti bisikan, sebuah bisikan yang menenangkan. Topi mayoretnya dilepas dan dikipas-kipaskan walau tak ada anginnnya. Gundukan uban-uban yang sedari tadi terkungkung dalam topi pengab dapat bernafas lega memamerkan kilauan putihnya yang kentara, tak ada sedikitpun rambut hitam yang nangkring di kepalanya.
“Ahh, aku tak percaya di usia itu kita masih gemar berkejaran seperti rusa mabuk!” kenang Daryo, wajah tuanya masih tampak muda, kacamata bundar sedikit bergeser dari hidungnya yang bengkok , ia lagi-lagi mengirimkan senyum damai pada Gredan yang melongo menatapi sahabatnya itu.

“Sejak saat itu aku berjuang Gre. Yah! Selama seminggu aku disiksa namun aku bangkit. Kabur dari markas mengerikan itu. Awal karirku. Awal lencanaku yang pasti karena keberanianku.” Daryo menyombongkan dirinya didepan Gredan yang mendadak tuli dan acuh.
“Aku sampai sekarang tak mengerti mengapa aku saat itu menderita juga sepertimu.” suaranya pelan seperti bergumam pada diri sendiri, rambut pirang kombinasi putih ubannya tertiup angin dan terpantul cahaya matahari menghasilkan efek pendar keemasan.
“Ah ya, Kau Belanda. Aku hampir lupa.” Daryo  menjawab sedikit ketus.
Mereka berdua tak hentinya berdebat hingga malam menjemput. Nyanyian jangkrik menjadi pengiring nostalgia mereka.
Tepat 63 tahun yang lalu mereka dipertemukan dalam kondisi berat, ketika Gredan dibuang oleh keluarga pirangnya karena berkhianat pada darahnya sendiri. Stasiun kereta Gambara menjadi saksi bisu pertemuan yang menjadi awal persahabatan mereka. Dua dunia, perbedaan begitu kental menyelimuti. Mereka bagaikan musuh yang siap menerkam. Namun kenyataannya mereka saling melembutkan, menguatkan dan mengokohkan.
Daryo sosok yang tegar, ia hidup sebatang kara di tanah ibu pertiwi sebagai gelandangan turun ke jalan yang memiliki keberanian sebesar singa. Terlihat kegagahan di usianya yang masih muda walaupun dalam balutan baju sobek-sobek. Kharismanya memancar membuat sang anak penjajah begitu terpana pada pribumi yang kuat seperti Daryo.
Pandangan mata mereka bertemu. Tatapan Daryo merasuk memenuhi relung Gredan. “Ceklek!” pintu hatinya terbuka ketika lama sudah ia tertelungkup sembunyi dalam kesendirian tanpa gairah. Ia yakin Daryo merupakan paket kiriman dari Tuhan sebagai pencerah hidupnya, ditengah keputusasaannya sebagai anak terbuang.
Pada kenyataaanya mereka benar-benar saling menguatkan dalam keadaan terpisah sekalipun, terkungkung oleh bala tentara jahannam. Mereka tak pernah bertemu lagi sejak itu, meneruskan perjuangan hidup sendiri-sendiri, menelusuri jalan setapak curam menuju kemerdekaan, kesukacitaan dan kebahagiaan. Saat itu Gredan yang keberaniannya hanya sebesar otak tikus berharap diistemewakan karena darahnya, gennya yang mencolok dapat menipu seakan-akan ia sebagai pihak pembuat bencana yang menjajah negeri subur ini. Namun diluar dugaan, ia berharap terlalu indah. Ketika ditangkap ia disiksa bagaikan binatang, kakinya dirantai. Dijadikan budak “permata” selama bertahun-tahun dan diolok-olok karena fisiknya yang berkhianat.
“Mereka menendangku berkali-kali Dar, mereka benar-benar membenciku. Namun untungnya aku tak sampai tewas.” Ujar Gredan dengan sedikit gelak namun gelak yang kecut.
“Sebenarnya mereka semua saudaramu Gre, aku sudah yakin sejak awal kau pasti baik-baik saja.”
“Tetap saja aku ingin kabur dari tempat busuk itu!”
Penderitaan Gredan lenyap ketika ia berhasil diselamatkan oleh sekumpulan pejuang pemberani bersenjata kayu menebas penjara siksaannya dan membawa pergi Gredan sejauh-jauhnya. Melatih Gredan menjadi pejuang pribumi dan menjadikannya sosok yang begitu pemberani. Perjuangannya begitu terkenal karena fisiknya yang menipu dan menentang. Ikat merah putih selalu setia memeluk erat kepalanya ketika bertempur dan bergerilya. Menjalankan amanah sebagai pejuang bagaikan profesi dengan karirnya yang memuncak . Gredan dipercaya sebagai agen rahasia.
Diandalkan sebagai mata-mata, menyusup dan menyamar dengan cerdik memasuki daerah lawan dimana banyak orang-orang yang sama persis dengan fisiknya. Strategi ini selalu berhasil menggempurkan pihak lawan, memperkenalkan sebuah strategi yang ampuh menyiasati minimnya persenjataan. Namun Gredan rela namanya tak pernah tertulis dalam pena sejarah bangsa dan bahkan tak pernah disebut-sebut.
Lain halnya dengan Daryo, kehidupannya penuh dengan peluh, pertempuran yang  banyak terjadi dalam wadah perairan, gempuran ombak-ombak yang menghempaskan tubuhnya, memamerkan otot-otot perkasa dan teriakan-teriakan penuh semangat perjuangan. Menerjang menangkis meriam api sang lawan. Dedikasinya sebagai pejuang tak sepopuler Gredan, hanya sebagai anak buah yang berdiri dalam barisan tak terlihat. Akan tetapi Daryo lebih memiliki pengalaman, pengalaman-pengalaman yang berhadapan dengan maut dan hampir bersalaman dengan maut.
“Negeri ini sudah lama merdeka Gre. Aku bangga telah pontang panting didalamnya”
“Aku sudah merdeka jauh sebelum Indonesia merdeka Dar. Itu karena hadirnya dirimu.”
“Jangan lupa, busungkan dadamu selalu! Perlihatkan bahwa kau adalah seorang yang kuat.” Matanya bergairah meruncing sehingga menusuk bola mata Gredan.   
Semilir angin dingin menggelitik wajah Gredan dan menembus nakal melewati baju sweaternya. Mata Gredan terbuka perlahan dengan kepalanya yang masih mendongak. Langit yang tadi membiru berubah gelap dengan bintang-bintang yang menyebar indah. Ia tadi tertidur. Memimpikan sosok pujaan hati, penyemangat jiwa, Daryo mendatanginya merengkuh bahunya dan mengajak bercanda tawa lagi. Berdebat hebat dalam dua watak yang berbeda. Namun ia tahu itu hanya sekedar mimpi.
Wajah Daryo masih menggelayuti hari-harinya yang kelam. Telah terlewat 20 tahun ia dijemput malaikat maut menemui sang pencipta dan damai disisinya. Tak sempat bersua dan mengecup kening sahabat untuk terakhir kalinya merupakan satu hal yang paling disesali Gredan hingga kini. “Serasa baru kemarin kau meninggalkanku?”
Saat itu Gredan dinyatakan lumpuh oleh dokter, pada saat yang bersamaan Daryo meninggalkan dirinya tanpa pernah bertemu sebelumnya. Mereka terpisah ketika hidup dan dipertemukan lagi dalam kematian. Kesepian Gredan tak pernah terobati. Sekarang hanyalah menyiapkan diri untuk dijemput dalam usianya yang senja dan menari-nari indah menemui sahabat sejati yang begitu dicintainya lebih dari mendiang istrinya sendiri.
“Mimpi yang paling kunanti-nanti, akhirnya kau menemuiku” Gredan membatin. Baginya sosok Daryo merupakan setengah dari kehidupannya dan jiwanya. Sebagai penggerak energi positif di sepanjang hidupnya.
“Aku tak pernah pergi darimu, Kawan” bisik-bisik sendu menyusup liang telinga Gredan.  Ia tersentak kaget. Kemudian tersenyum kembali mengenang.

“Ahh, Pitak!”

KAKEK EMAS

Kakek Emas
Debu berterbangan menyebar ke udara akibat sapuan seorang penyapu jalanan bertopi jingga ditengah panas terik yang menyengat menjadi perhatian Gea. Gadis itu duduk termangu di sebuah halte penuh dengan coretan dan kelupasan cat biru di kanopinya serta keropos pada sepasang tiang penyangganya.
Disamping Gea duduk seorang pemuda acak-acakan yang sedang menghisap rokoknya sambil menatap lesu ke sepanjang jalan arteri yang ramai dengan kendaraan ibukota. Gea mengalihkan pandangannya pada seorang ibu berkerudung sambil menggandeng seorang anak laki-laki berseragam SD. Anak itu merengek karena kepanasan dan keletihan sambil memeluk perutnya meringis, si Ibu pun mengomel pelan menentang rengekan anaknya.
“Sabar dek, ibu juga capek !”
Gea melirik pergelangan tangannya yang putih dibalik kacamata gagang merah muda yang bertengger manis dihidung mancungnya dan membatasi mata sipitnya.
“Astaga, jamku mati!” Gea mengumpat pelan, suaranya memancing seorang pria yang tiba-tiba menoleh, menatap sebentar kemudian berpaling lagi, acuh.
Pria itu berpenampilan rapi dengan kemeja abu-abu yang tepat berdiri didepan ia duduk dan menghalangi sedikit pandangannya pada jalan yang padat dan sibuk. Pria itu mengepit beberapa map diketiaknya. Gea melihat keringat yang merembes di kemeja belakangnya seperti sebuah cetakan berbentuk oval. Pria itu kemudian bersandar letih di tiang. Mungkin sedang mencari pekerjaan. Batin Gea menebak.
Keempat orang yang ada dihalte itu jelas mempunyai tujuan yang berbeda-beda namun bersama dengan Gea mereka menunggu bis yang sama. Penuh harap ditengah kelesuan dan kepadatan ibukota yang menyesakkan.
Ketika ia masih memperhatikan iba tukang sapu jalanan, dari kejauhan Gea melihat bis yang semakin merapat ke halte. Gea berdiri semangat menanti bis yang sudah penuh sesak itu.
Ibu bersama anaknya lah yang paling cekatan memasuki bis disusul dengan pria pelamar kerja dan kemudian Gea. Rambut panjangnya  berkibar sedikit dan kembali lesu ketika sudah berada di dalam bis yang sesak.
Ketika bis sudah mulai berjalan perlahan, entah mengapa perasaan Gea heran campur kecewa ketika pemuda yang lusuh dengan rokok yang sudah diinjaknya kembali duduk termenung di sudut halte. Tatapannya lurus. Seperti banyak masalah.
Kenapa dengan orang itu ? apa masalahnya sampai-sampai tak jadi naik bis ini? tanya Gea dalam hati, namun ia tahu pertanyaan itu sekedar pertanyaan tanpa jawaban.
Di dalam bis ia pasrah berdiri dan jarinya terpancang pada pegangan gelang- gelang langit-langit bis.  Sebenarnya ia tak kuat, dari pagi sebelum berangkat kuliaj ia belum sarapan dan sampai matahari tepat berada di atas kepala iapun masih seperti puasa. 
Tiba-tiba pandangannya kabur dan serasa berputar-putar, ia mati rasa dan lemas, kepalanya terjungkal kebelakang seperti tak memiliki berat lagi. Anemianya kambuh.
“Mbak tidak apa-apa?” tanya wanita yang berdiri disampingnya sangat khawatir melihat Gea secepat kilat kembali berdiri seperti tidak terjadi apa-apa.
“Hanya ngantuk. Terima kasih.” Gea berbohong. Ia tak ingin membuat orang khawatir.
Deru bis tertutupi oleh suara-suara kendaraan hilir mudik melewati dan mengiringi bis yang dinaiki Gea. Ketika Gea melamun tiba-tiba saja ada yang menepuk pundaknya. Sekuat tenaga ia menoleh dan berusaha fokus menatap orang yang menepuknya.
“Ikut saya kebelakang dek”  suaranya parau. Seorang kakek tersenyum ramah dan memegang erat lengan Gea, menariknya perlahan menerobos orang-orang yang sedang berdiri bergantung. Gea menurut saja tanpa berpikir panjang. Badannya sudah lemas dan ia juga tak dapat memberontak.
Sesampainya disudut tempat duduk paling belakang kakek itu menyingkirkan tas kusam miliknya dan tersedialah tempat duduk kosong. Sambil tetap tersenyum ia menggerakan tangannya mengisyaratkan Gea untuk duduk.
“Hahh!” Gea bengong, namun dengan penglihatannya yang samar-samar itu tentu saja tak dapat merekayasa apa yang baru saja dilakukan kakek itu. Penampilan fisiknya pun sudah tak begitu kuat lagi. Ia tak percaya.
“Silahkan duduk saja, sepertinya anda lebih membutuhkan tempat duduk daripada saya.”
Sekali lagi Gea menatap orang tua itu tak percaya, namun ia dengan mudahnya mehempaskan tubuhnya ke kursi itu dalam hati bersyukur. Gea bingung, bagaimana bisa kakek itu tahu ia sedang sakit. Jangan-jangan orang ini peramal atau malah dokter. Batin Gea ngoceh.
Laki-laki renta itu kini sedang berdiri agak bungkuk sambil memegang erat tasnya. Peluh membasahi lehernya, wajahnya keras dengan lekukan keriput keriput tajam di sekitar mata dan pelipisnya. Ketika ia berkedip tersirat aura renta dan muram namun memancarkan pendar keemasan dan ketenangan batin bagi yang melihatnya. Wajahnya sudah terpatri permanen sebuah senyuman. Bahkan ketika ia diam.
Seperti patung yang hidup, kakek itu tiba-tiba bergerak dan merogoh bagian dalam tasnya mengeluarkan sebuah botol air mineral yang masih tersegel. Dengan ramah menawarkan pada anak laki-laki bersama ibunya tadi. Gea tersadar anak itu sedari tadi memegangi tenggorokannya seperti sedang tercekat.
“Adik mau minum? Ini ambil punya saya.” Anak itu ragu melihat tatapan ibunya yang curiga dengan segala pikiran negatif. Akhinya dengan hasutan Sang Ibu, anak itu menolak dengan nada yakin. Bibir keringnya mengatup kecewa kentara sekali sangat kehausan. Melihat ekspresi itu, Sang kakek hanya tersenyum dan memasukkan kembali botol air minumnya. Tak ada kekecewaan. Hanya ada suatu pemahaman yang wajar.
Tiba-tiba Gea berdiri dan mencegah botol itu kembali dimasukkan ke dalam tas.
“Permisi ibu dan adik, saya tahu anak ibu sangat haus.” Gea terhenti sebentar menarik napas dan melanjutkan dengan tatapan heran kakek itu.
“Ini Kakek saya ingin membantu kok malah ditolak, kebetulan beliau sedang puasa”  untuk kedua kalinya Gea berbohong. Sekali lagi kakek itu tersenyum menatap Gea dan tanpa ada keraguan kembali menyodorkan air mineral itu
“Terima kasih Kek!” jawab anak itu langsung menyambar air yang begitu menggiurkan baginya.
Kali ini pusing dan sakit Gea hilang, segala kepenatan menjalani hari ini dan keluhan-keluhannya sirna. Menyaksikan seorang manusia mulia yang ikhlas membantu dan begitu perhatian terhadap orang-orang disekelilingnya. Peka terhadap segala bentuk kesusahan orang lain sekecil apapun.
Saat ini Gea merasa kecil, ia tentu saja masih belum mampu menjadi seperti bapak itu ,setulus itu memberi tanpa menghiaraukan reaksi orang yang diberi. Tanpa disadari butiran air keluar dari pelupuk matanya, ia sangat terharu melihat bapak itu dan teringat akan mendiang almarhum kakek yang sangat dicintainya.
“Hal kecil yang bisa aku lakukan saat ini hanyalah mencegah orang lain menolak kebaikan orang yang tulus ingin menolong.” Bisik Gea kepada dirinya sendiri. Ia merasa damai dengan sosok renta yang masih berdiri dihadapannya tersenyum menatap lurus pemandangan ramai kota dari jendela bis.



Minggu, 31 Maret 2013

Di minggu siang yang Cerah :D


alhamdulilah, karya pertamaku termuat di koran Kaltim Post, gak nyangka banget, soalnya itu cerpen udah lama dkirim n gk prnh dpat konfirmasi, malah seperti gagal terkirim. 
di  minggu siang ini tanggal 31 maret 2013, aku berniat beli koran kaltimpost yang gak pernah ku beli, niatnya sih pengen liat cerpen orang buat ku jadikan pelajaran soalnya aku mau bikin cerpen lagi, mengingat cerpenku yang ku kirim kuanggap "failed" ..... eh ternyata ketika ku buka halaman cerpen. voila ! that's mine. huehehehe.... happy happy. this is first time...... :D .

Pengemis Keliling
Sebuah kotak plastik persegi empat dengan pegangan diatasnya dijinjing sedikit berayun memasuki koridor kampus. Aroma khas pandan dari bolu kukus tercium oleh si pembawa.
“Hari ini promo, 1 kue 3 ribu tapi klo beli 3 cuma 7 ribu aja!” tukas Erin lantang, bagai terkena sugesti teriakannya lantas memicu kerumunan teman-temannya mendekat dan menyerbu habis seluruh dagangan paginya.
Setiap hari Erin membantu ibunya yang single parent itu berjualan kue dari sudut ke sudut kampus. Secara tidak langsung dari hasil berjualan kue itulah Erin dapat terus meneruskan pendidikannya.
***
Asap knalpot motor Erin menderu menyebarkan gas-gasnya ke udara bersamaan dengan sahabatnya Hesti, motor mereka  beriringan  menuju tempat makan siang sebelum memulai kembali jam kuliah mereka.
“Rin disini aja!” seru Hesti membunyikan klakson motornya sedikit mengejutkan Erin yang sedang terhipnotis sensasi cekit-cekit di punggung tangannya karena  efek panas terik.
Mereka memasuki sebuah rumah makan. Di dalamnya tidak terlalu ramai. Beberapa orang duduk terpisah-pisah dengan asik melahap santapan siang dihadapan mereka.
“Ayam lalapan sama es jeruk 2 Bu!” Hesti memesan pada seorang ibu yang sibuk membolak-balik ayam dipenggorengan.  Ia mengangguk. “Sebentar”.
Mereka duduk di meja yang terletak paling dekat pintu keluar. Suasana riuh ramai jalan raya serta polusi udara membuat penat indra penglihatan mereka.
“Disini ayam lalapannya mantep Rin, apalagi sambelnya” tukas Hesti nyengir. Tangannya menjangkau tissue yang terletak di pojok meja .
Tiba-tiba wajah mereka berubah ketika seorang wanita yang ringkih namun belum terlalu tua dengan pakaiannya terlihat lusuh selusuh wajahnya berjalan pelan memasuki rumah makan tersebut. Sandal jepit yang ujung-ujungnya terkelupas meninggalkan jejak jejak kotor dilantai rumah makan itu. Wajahnya lemas dengan tangan menengadah, kentara sekali ingin mencari simpati. Namun Erin hanya melengos.
“Males banget liat begitu, ganggu !” bisik Erin pada Hesti ketika pelayan tiba, meletakkan pesanan mereka tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Mendengar itupun Hesti hanya mengiyakan tanda setuju.
Ketika pengemis itu menghampiri meja mereka, Hesti hanya terdiam menyibukkan diri mengutak-ngutik handphone-nya pertanda tak ingin memberi apa-apa. Tapi wanita tua itu tetap tak bergeming sambil bergumam tak jelas minta dikasihani oleh mereka.
“Lewatin aja bu,” jawab Erin tak sabar.
Mereka memperhatikan cara  pengemis itu berkeliling ke setiap meja-meja pelanggan lainnya. Mengais seribu demi seribu rupiah atau bahkan dua ribu demi dua ribu rupiah mengingat sekarang orang lebih banyak mengantongi uang kecil dua ribuan daripada seribuan. Untung sekali ! batin Erin.
“Setiap makan di sekitaran kampus aku pasti melihat orang itu, kuat ya! Sanggup keliling jalan kaki panas panas gini___”
“Hanya untuk minta-minta. Kuat sekali. Masih sehat !” sambung Erin dengan nada kesal melanjutkan kata-kata Hesti.
“Coba kamu bayangkan, dalam sehari pengemis seperti itu memasuki 10 rumah makan dan setiap rumah makan yah paling banter dapat seribu rupiah dari setiap 10 orang yang berhasil dimintainya. Bayangkan keuntungannya dalam sehari, ckckck. Bayangkan!” Erin menggebu-gebu mengungkapkan teorinya. Sahabatnya itu mengangguk bersemangat, wajahnya juga terlihat kesal.
“Yah namanya juga cari uang, orang-orang seperti itu hanya memanfaatkan kedermawanan dan kebaikan orang lain.  Aku seribu kali lebih menghargai pak’le pentol yang keliling-keliling dengan gerobaknya. Haha “  Jawab Hesti suaranya tak jelas karena mulutnya dipenuhi makanan. Ekspresinya lahap!
“Setuju, kenapa gak kerja aja masih kuat gitu kok, apa susahnya keliling sambil membawa dagangan, kerupuk opak misalnya. Langsung kuborong kalau ibu yang tadi jualan kerupuk opak.” Kata Erin sambil tertawa terkekeh-kekeh namun tidak mengurangi gerutu kesalnya. Sambil menyuap nasi hingga tersedak.
Namun seperti yang telah diketahui mereka berdua bahwa terdapat semacam sindikat atau pengorganisasian pengemis. Jadi kemungkinan besar pengemis pengemis yang tersebar di penjuru kota mempunyai satu orang pimpinan yang siap mendapat setoran dari mereka. Sudah merupakan rahasia umum hanya saja belum banyak dilakukan suatu penyelidikan dan penelitian.
“Kalau gak ada bosnya mungkin sebulan jadi pengemis, bulan depannya udah gak ngemis lagi. Kita positive thinking aja Rin. Siapa yang mau tebal muka ngemis-ngemis seperti itu kalau gak ada unsur paksaan dari ‘orang yang diatasnya’. Ya kan?” oceh Hesti minta persetujuan. Matanya tetap berkonsentrasi pada ayam lalapannya.
Erin membalasnya hanya dengan gumaman tak jelas, ia membatin mengakui kebenaran perkataan sahabatnya itu. Buktinya wajah-wajah lusuh yang sudah tak asing lagi telah mengiringi kegiatan makan mereka selama mereka kuliah dan menurut perhitungannya waktu yang sudah cukup lama untuk pengemis itu berhenti dan bekerja ke tahap lebih tinggi lagi. Berjualan misalnya, namun tak sesuai harapan. Mereka tetaplah pengemis yang sukarela melangkahkan kaki mereka minta dikasihani dan tidak pernah berubah.
Bagaimana dengan kesejahteraan, orang-orang seperti itu merupakan cerminan kegagalan pemerintah yang menjanjikan rakyatnya untuk sejahtera dan memberdayakan rakyatnya yang miskin. Disamping itu pengemis sudah diibaratkan suatu profesi yang menguntungkan. Lantas apa mereka masih bisa disebut tidak sejahtera. Lahan bisnis yang subur, kebanyakan pengemis, anjal (anak jalanan), peminta-minta yang ‘cacat palsu’ itu berasal dari luar kota atau imigran. Sungguh ironi orang-orang seperti itu memenuhi ibukota.
***
Hari berikutnya Erin dan Hesti kembali memburu makan siang dan memutuskan menu bakso yang akan mengisi perut mereka.
Mereka menyantap bakso yang masih hangat dengan lahapnya sambil diiringi oleh genjrengan seorang pengamen laki-laki muda yang tidak terlalu lusuh, nadanya bersemangat menyanyikan lagu-lagu country. Cerminan seorang pekerja keras. Disaat yang bersamaan datang seorang pengemis persis seperti yang mereka lihat kemarin melancarkan aksinya seperti biasa.
“Sedekahnya Dik”
Erin tersenyum mencurigakan, ia sepertinya memiliki rencana.  Sementara Hesti terbengong-bengong penasaran. Erin sengaja mengulur-ulur waktu hingga pengamen itu selesai bernyanyi dan tiba di meja mereka sambil menyodorkan kaleng kecil  berisi uang receh.
Erin menarik 1 lembar 10 ribu dari dompetnya. Terdapat ekspresi keterkejutan dalam raut wajah sang pengemis. Ia tak menyangka akan diberi uang sebanyak itu. Pikirnya.
Ternyata uang itu meluncur memasuki kaleng milik pengamen dan seketika wajahnya  sumringah dan tak hentinya mengucapkan terima kasih pada Erin. Pengemis itu tetap berdiri dihadapan Erin, ia berharap diberi sama oleh Erin, namun yang dilakukan Erin justru meletakkan sebungkus permen karet ditangan yang menengadah itu.
Pengemis itupun menelan ludah menatap sebentar permen karet itu. Tatapannya masam bagaikan menerima sampah kemudian memutuskan untuk mengantonginya, sambil mendengus kesal.
Kedua gadis bersahabat itu menahan tawa mereka menjadi semacam gelak tersembunyi. Mereka senyum-senyum sampai pengemis itu pergi.
“Aku jauh lebih menghargai nyanyian pengamen daripada jejak pengemis yang hanya meminta tanpa jerih payah” seru Erin mantap.


Selasa, 26 Maret 2013

Cerita Pendek : Inspirasi oleh lagu Butiran Debu :)


Butiran Debu
Butiran debu berterbangan menghinggapi bulu kucing gemuk yang sedang tertidur pulas di teras sebuah rumah sederhana bercat kuning. Sebuah suara gelontangan yang       berasal dari dalam rumah diiringi teriakan lirih seorang wanita secara tiba-tiba membuat kucing gemuk itu terjaga dan mengeong-ngeong. Tak hanya kucing yang kaget, seorang gadis yang sedari tadi sibuk memotongi tanaman liar tepat di depan rumah spontan berlari masuk ke rumah dan melepas asal-asalan sandal jepitnya hingga tak sengaja menimpuk kepala kucing yang tiba-tiba berhenti mengeong dan kembali terpejam mengguliat.
“Astaga Mama !” Mata gadis itu melotot melihat seorang wanita paruh baya tersungkur lemah meronta-ronta. Sesaat matanya memperhatikan miris panci-panci, wajan dan beberapa piring pecah berserakan di dapur sempit rumah itu.
Tangan kasarnya memukul-memukul punggung gadis itu dengan suara “buk” yang keras. Kaila sedikit mengaduh namun ia tetap sabar. Pukulan kedua semakin keras dan sekali lagi bibir tipis Kaila hanya mengaduh lirih. Badan mungilnya merangkul kuat tubuh wanita itu yang tak berdaya.
“Mama jangan pukul Kaila terus dong ! Maafin Kaila yang telat ngasih obatnya.” Kata Kaila dengan tatapan sedih. Sudah tak terhitung lagi tangan putih mulus Kaila memberikan 2 butir pil, sebutir kapsul dan segelas air ke mulut ibunya. Ajaib ! Wanita yang tadinya meronta-ronta dan tak mengenal lelah untuk terus menghamburkan isi rumah tiba-tiba matanya terpejam seperti sedang tertidur. Sekejap keheningan sunyi menyita suasana rumah itu dan yang terdengar hanya kokok ayam jago tetangga seberang.
“Kakak belum mengirim uang bulanan Ma, terpaksa Kaila harus jualan koran lagi di tempat Bang Jali. Seandainya masih ada papa.” Kaila mengoceh sendiri di hadapan mamanya yang sedang terpejam. Kakaknya yang merantau di negeri orang memang sering tersendat-sendat mengirimkan uang.
Kaila memandangi tangan ibunya dan kemudian mengalihkan pandangan ke tumpukan pakaian sudah kering diangkat dari jemuran ketika adzan zuhur berkumandang. Ia menatapi  seragam putih abu-abu miliknya terselip dalam tumpukan. Perasaannya kacau karena beban kehidupan yang berat. Kaila seorang remaja berambut panjang lurus dan bertubuh mungil itu mempunyai prinsip bahwa sekeras apapun hidup yang dijalani sampai detik ini ia harus tetap bersekolah dan meraih impian setinggi mungkin.
“Awalnya baik pasti akhirnya akan baik-baik saja !” ucap Kaila yakin dengan tangannya yang mengepal. Walaupun dalam lubuk hatinya timbul keraguan yang tersirat. Namun hal itu coba ditepisnya.
***

Sepatu kets hitam yang sudah mulai pudar warnanya diraih Kaila, dimulutnya tersumpal potongan roti selai nanas. Sebelum berangkat Kaila memeluk dan mencium tangan ibunya walaupun hanya dibalas tatapan kosong Sang Mama.
“Kaila berangkat ya Ma, sebentar lagi ibu Asri datang temenin mama kok. “ kata Kaila sembari menerbitkan senyum manis pada mamanya yang membisu, ia seperti tak memahami ucapan anaknya.
Pagi itu hujan rintik menemani sepanjang perjalanan Kaila menuju sekolah. Bis penuh sesak walaupun masih jam 6 pagi. Di sepanjang perjalanan Kaila melamun. Ia memikirkan apakah Bu Asri tetangga sebelah yang sudah lama menjaga mamanya terlambat datang lagi. Kaila cemas kalau-kalau mamanya menciptakan keributan lagi. Kemudian pikirannya terlempar kepada mamanya yang hingga kini tak kunjung sembuh. Bu Wening menderita penyakit jiwa akut, kemungkinan untuk sembuh sangat kecil sekali. Kepala Kaila menunduk sedih memperhatikan sepatunya yang sudah lusuh. Satu-satunya kebahagiaan adalah kesembuhan Mama.
Ia tak menyangka kematian ayahnya karena kecelakaan hebat membuat perubahan besar pada mamanya. terakhir kali Kaila ingat mamanya menyalahkan dirinya sendiri sebagai penyebab kematian suaminya yang sangat dicintainya itu. Telah berbagai cara dilakukan untuk menyembuhkannya. Sampai-sampai Kaila tak pernah lagi memikirkan cinta-cintaan seperti yang sedang nge-trend di kalangan remaja. Sudah lama Kaila tidak pernah merasa berbunga-bunga apalagi terpikir untuk pacaran.

***

Peluh membasahi leher kaila yang ngos-ngosan berlari menuju rumahnya. Setelah mendengar alasan dari Bu Asri via telepon, untuk ketiga kalinya absen menjaga Bu Wening. Di depan rumah Kaila bengong, matanya tertuju pada sepasang sandal asing  tergeletak di teras. Ada orang ! Pikirnya.
“Assalamualaikum.” Tak ada yang menyahut, namun terdengar bunyi-bunyi bising bersumber dari dalam rumah, hatinya tak menentu, ternyata apa yang dikhawatirkan Kaila selama perjalanan pulang benar. Ia takut dan merasa bersalah membayangkannya mamanya yang tidak tahu apa-apa sendirian di rumah.
“hahh Mamaaa !” Jerit Kaila melihat mamanya yang kembali mengacak-acak isi rumah dan perabotan yang sudah terbalik dan terguling kemana-mana. Saking paniknya Kaila tak sadar ada seorang cowok yang sedari tadi memegangi tangan ibunya berusaha keras untuk menolong dan menghentikan semua kegaduhan itu.
Dengan gesit Kaila meminumkan obat mujarab pada mamanya dan ajaib suasana kembali hening. Kaila dan cowok itu saling memandang beberapa saat. Mereka berdua terlihat seumuran, t-shirt biru yang dikenakannya berkeringat. Kaila heran melihat celana jeans yang dipakainya digulung setengah lutut seperti orang kebanjiran. Mungkin dia panik melihat ibunya yang susah untuk diberhentikan. Tiba-tiba saja Kaila tersenyum melihat wajah lucu cowok itu yang sekilas terlihat manis. Sepertinya orang baik ! Simpul Kaila dalam hati.
“Sorry tadi aku gak sengaja denger ribut-ribut makanya aku samperin, oiya kenalin aku Reno. Aku orang baru disini.” Kata cowok itu sembari menjulurkan tangannya hendak bersalaman dan menerbitkan senyum terindah yang tak pernah dilihat Kaila sebelumnya. Suaranya yang lembut mengalir merasuk ke dalam pendengaran Kaila. Ia seperti sedang berada di sebuah tempat yang luas dengan angin sepoi-sepoi bertiup ringan, angin itu membuatnya terbang melayang-layang mengijinkannya untuk sejenak merasakan kebebasan dan ketenangan tiada tara yang diciptakan oleh sosok yang baru dikenalnya beberapa detik yang lalu. Tanpa sadar gadis itu mengeluarkan keringat, ia menjadi berdebar-debar. Kaila sadar ia sedang grogi dan tidak biasanya ia malu menatap mata indah cowok yang dihadapannya sekarang sedang meyandarkan ibunya perlahan di kursi.
Suasana yang berbunga-bunga menjadi sirna ketika suara rintihan ibunya membuat perhatian kedua remaja itu teralihkan. Mata Bu Wening terbuka perlahan dan secara ajaib ia memandangi Kaila, bibirnya bergerak bukan untuk berteriak akan tetapi sedikit demi sedikit wanita itu tersenyum lebar sambil memperhatikan anaknya yang terbengong-bengong.
“Kaila sayang ! Dia baik sekali. “ kata Bu Wening, suaranya terdengar samar-samar lebih seperti suara lirihan, jari telunjuknya menunjuk Reno dan sekali lagi tersenyum. Kontan saja Kaila seperti mau pingsan dan sekujur tubuhnya lemas. Semuanya tiba-tiba menjadi gelap gulita, Kaila seperti mendengar seseorang yang memanggil-manggil namanya sambil mengguncang tubuhnya, namun perasaan ini tak terjamah, tak dapat dimengerti, ini lebih dari sekedar bahagia. Ia berusaha untuk membuka matanya namun kegelapan masih menyita, tapi anehnya Kaila justru menikmati itu, luapan emosi kegembiraan terpancar sempurna sehingga ia tak takut dilanda kegelapan. Akhirnya guncangan terakhir membangunkannya dan membuatnya sadar bahwa ini bukan mimpi.
Kaila langsung memeluk mamanya, air mata mengalir pelan menyusuri pipinya dan bermuara di bahu ibunya yang masih tetap tersenyum. Inilah saatnya, Kaila yakin ini sebuah keajaiban bahwa ibunya pasti akan kembali seperti semula. Semua karena cinta. Cinta yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Kehadiran Reno merubah segalanya, sekarang ia tahu bagaimana cara menyembuhkan ibunya. Kaila sadar selama ini ibunya ingin Kaila dapat merasakan cinta layaknya remaja lain. Intinya Bu Wening ingin melihat anaknya bahagia.
“Aku sudah tahu banyak tentangmu Kaila, jujur saja pertama aku melihatmu, aku mengagumimu dan aku pikir mungkin ini saat yang tepat.” Kata Reno yang suaranya sedikit tersendat. Cara bicaranya membuat Kaila terpesona dan saat itu ia tahu lelaki yang ada dihadapannya terlihat tulus. Ada sedikit kecanggungan ketika Reno menunggu jawaban Kaila yang terdiam membisu. Kaila tak sanggup berkata-kata lagi. Rasa bahagia yang memuncak membuatnya bisu sejenak.
Reno memegang tangan Kaila dan tersenyum, seakan-akan ia dapat membaca hati Kaila. “Terima kasih Reno telah membuatku mengerti sebuah kebahagiaan yang sederhana. Aku bahagia didekatmu walaupun aku tak mengerti mengapa bisa begitu.” Ucap Kaila dalam hati.

***

Namaku Cinta
Ketika kita bersama berbagi rasa untuk selamanya
Namaku Cinta
Ketika kita bersama berbagi rasa sepanjang usia
Alunan lagu dari Rumor-Butiran Debu mengalir lembut menggema disetiap sudut rumah itu ketika Reno memutar MP3-nya sambil menyuapi Bu Wening yang kondisinya semakin baik. Disampingnya duduk Kaila dengan rona wajah ceria sembari menyandarkan kepalanya di bahu Reno. Kini suasana rumah itu menjadi lebih hidup dan berwarna. Bagi Kaila, Reno seperti malaikat yang menyelamatkan dirinya dari kekosongan hati selama ini.

sepotong kue untuk Arvin


Sebuah kelereng warna-warni berputar pelan di atas meja yang penuh dengan lembaran kertas coretan abkstrak, ketika kelereng itu berhenti, tangan mulus Elisa kembali memutarkannya. Raut wajahnya sama sekali tidak tertarik pada kelereng itu namun ketika berhenti tangannya tak bisa menahan diri untuk kembali memutarnya, seakan-akan dunia akan berhenti apabila kelereng itu tak diputar. wajahnya terlihat sekali sedang bingung, tiba-tiba saja sesosok tangan menyentil kelereng yang sedari tadi awet berputar. hal itu membuat Elisa memalingkan wajahnya dan mengubah rautnya seperti ingin marah.
“lagi galau yaa, udah jadi belon kuenya ?” ledek Vera sembari tersenyum jahil melihat sahabatnya yang sedang dirundung kegelisahan.
“udah, ampe larut malem gue buatnya nih. tapi…” nadanya melambat dan tiba-tiba hilang. disusul dengan cekikikan Vera yang semakin menjadi-jadi melihat sahabatnya Kiki tiba-tiba datang merangkul Vera sembari melirik-lirik jahil pada Elisa.
“Sumpah, gue nervous abis Sob !” kata-kata Elisa terdengar memelas. ia tidak yakin dan sampai sekarang tidak percaya pada apa yang akan dilakukannya. menembak seorang cowok bagi seorang cewek yang kalem seperti Elisa merupakan hal yang sangat tabu. ia seperti tersihir oleh perkataan Vera dan Kiki yang membujuknya untuk menyatakan cintanya pada Arvin yang sialnya juga seorang cowok super dingin.

TO BE CONTINUED...........???

Intro

welcome to my new blog.

di blog saya ini apapun dapat diwujudkan
apapun dapat ditulis
apapun dapat diekspresikan
dan apapun dapat dicita-citakan.

saya akan membagikan apa yang bermanfaat untuk semua.
tidak hanya cuap-cuap
tidak akan menjadi menguap
tapi akan bermanfaat dan bermakna.
terima kasih. ^_^ .

Salam Hangat. Rini Zainab Husein