Senin, 26 Agustus 2013

KAKEK EMAS

Kakek Emas
Debu berterbangan menyebar ke udara akibat sapuan seorang penyapu jalanan bertopi jingga ditengah panas terik yang menyengat menjadi perhatian Gea. Gadis itu duduk termangu di sebuah halte penuh dengan coretan dan kelupasan cat biru di kanopinya serta keropos pada sepasang tiang penyangganya.
Disamping Gea duduk seorang pemuda acak-acakan yang sedang menghisap rokoknya sambil menatap lesu ke sepanjang jalan arteri yang ramai dengan kendaraan ibukota. Gea mengalihkan pandangannya pada seorang ibu berkerudung sambil menggandeng seorang anak laki-laki berseragam SD. Anak itu merengek karena kepanasan dan keletihan sambil memeluk perutnya meringis, si Ibu pun mengomel pelan menentang rengekan anaknya.
“Sabar dek, ibu juga capek !”
Gea melirik pergelangan tangannya yang putih dibalik kacamata gagang merah muda yang bertengger manis dihidung mancungnya dan membatasi mata sipitnya.
“Astaga, jamku mati!” Gea mengumpat pelan, suaranya memancing seorang pria yang tiba-tiba menoleh, menatap sebentar kemudian berpaling lagi, acuh.
Pria itu berpenampilan rapi dengan kemeja abu-abu yang tepat berdiri didepan ia duduk dan menghalangi sedikit pandangannya pada jalan yang padat dan sibuk. Pria itu mengepit beberapa map diketiaknya. Gea melihat keringat yang merembes di kemeja belakangnya seperti sebuah cetakan berbentuk oval. Pria itu kemudian bersandar letih di tiang. Mungkin sedang mencari pekerjaan. Batin Gea menebak.
Keempat orang yang ada dihalte itu jelas mempunyai tujuan yang berbeda-beda namun bersama dengan Gea mereka menunggu bis yang sama. Penuh harap ditengah kelesuan dan kepadatan ibukota yang menyesakkan.
Ketika ia masih memperhatikan iba tukang sapu jalanan, dari kejauhan Gea melihat bis yang semakin merapat ke halte. Gea berdiri semangat menanti bis yang sudah penuh sesak itu.
Ibu bersama anaknya lah yang paling cekatan memasuki bis disusul dengan pria pelamar kerja dan kemudian Gea. Rambut panjangnya  berkibar sedikit dan kembali lesu ketika sudah berada di dalam bis yang sesak.
Ketika bis sudah mulai berjalan perlahan, entah mengapa perasaan Gea heran campur kecewa ketika pemuda yang lusuh dengan rokok yang sudah diinjaknya kembali duduk termenung di sudut halte. Tatapannya lurus. Seperti banyak masalah.
Kenapa dengan orang itu ? apa masalahnya sampai-sampai tak jadi naik bis ini? tanya Gea dalam hati, namun ia tahu pertanyaan itu sekedar pertanyaan tanpa jawaban.
Di dalam bis ia pasrah berdiri dan jarinya terpancang pada pegangan gelang- gelang langit-langit bis.  Sebenarnya ia tak kuat, dari pagi sebelum berangkat kuliaj ia belum sarapan dan sampai matahari tepat berada di atas kepala iapun masih seperti puasa. 
Tiba-tiba pandangannya kabur dan serasa berputar-putar, ia mati rasa dan lemas, kepalanya terjungkal kebelakang seperti tak memiliki berat lagi. Anemianya kambuh.
“Mbak tidak apa-apa?” tanya wanita yang berdiri disampingnya sangat khawatir melihat Gea secepat kilat kembali berdiri seperti tidak terjadi apa-apa.
“Hanya ngantuk. Terima kasih.” Gea berbohong. Ia tak ingin membuat orang khawatir.
Deru bis tertutupi oleh suara-suara kendaraan hilir mudik melewati dan mengiringi bis yang dinaiki Gea. Ketika Gea melamun tiba-tiba saja ada yang menepuk pundaknya. Sekuat tenaga ia menoleh dan berusaha fokus menatap orang yang menepuknya.
“Ikut saya kebelakang dek”  suaranya parau. Seorang kakek tersenyum ramah dan memegang erat lengan Gea, menariknya perlahan menerobos orang-orang yang sedang berdiri bergantung. Gea menurut saja tanpa berpikir panjang. Badannya sudah lemas dan ia juga tak dapat memberontak.
Sesampainya disudut tempat duduk paling belakang kakek itu menyingkirkan tas kusam miliknya dan tersedialah tempat duduk kosong. Sambil tetap tersenyum ia menggerakan tangannya mengisyaratkan Gea untuk duduk.
“Hahh!” Gea bengong, namun dengan penglihatannya yang samar-samar itu tentu saja tak dapat merekayasa apa yang baru saja dilakukan kakek itu. Penampilan fisiknya pun sudah tak begitu kuat lagi. Ia tak percaya.
“Silahkan duduk saja, sepertinya anda lebih membutuhkan tempat duduk daripada saya.”
Sekali lagi Gea menatap orang tua itu tak percaya, namun ia dengan mudahnya mehempaskan tubuhnya ke kursi itu dalam hati bersyukur. Gea bingung, bagaimana bisa kakek itu tahu ia sedang sakit. Jangan-jangan orang ini peramal atau malah dokter. Batin Gea ngoceh.
Laki-laki renta itu kini sedang berdiri agak bungkuk sambil memegang erat tasnya. Peluh membasahi lehernya, wajahnya keras dengan lekukan keriput keriput tajam di sekitar mata dan pelipisnya. Ketika ia berkedip tersirat aura renta dan muram namun memancarkan pendar keemasan dan ketenangan batin bagi yang melihatnya. Wajahnya sudah terpatri permanen sebuah senyuman. Bahkan ketika ia diam.
Seperti patung yang hidup, kakek itu tiba-tiba bergerak dan merogoh bagian dalam tasnya mengeluarkan sebuah botol air mineral yang masih tersegel. Dengan ramah menawarkan pada anak laki-laki bersama ibunya tadi. Gea tersadar anak itu sedari tadi memegangi tenggorokannya seperti sedang tercekat.
“Adik mau minum? Ini ambil punya saya.” Anak itu ragu melihat tatapan ibunya yang curiga dengan segala pikiran negatif. Akhinya dengan hasutan Sang Ibu, anak itu menolak dengan nada yakin. Bibir keringnya mengatup kecewa kentara sekali sangat kehausan. Melihat ekspresi itu, Sang kakek hanya tersenyum dan memasukkan kembali botol air minumnya. Tak ada kekecewaan. Hanya ada suatu pemahaman yang wajar.
Tiba-tiba Gea berdiri dan mencegah botol itu kembali dimasukkan ke dalam tas.
“Permisi ibu dan adik, saya tahu anak ibu sangat haus.” Gea terhenti sebentar menarik napas dan melanjutkan dengan tatapan heran kakek itu.
“Ini Kakek saya ingin membantu kok malah ditolak, kebetulan beliau sedang puasa”  untuk kedua kalinya Gea berbohong. Sekali lagi kakek itu tersenyum menatap Gea dan tanpa ada keraguan kembali menyodorkan air mineral itu
“Terima kasih Kek!” jawab anak itu langsung menyambar air yang begitu menggiurkan baginya.
Kali ini pusing dan sakit Gea hilang, segala kepenatan menjalani hari ini dan keluhan-keluhannya sirna. Menyaksikan seorang manusia mulia yang ikhlas membantu dan begitu perhatian terhadap orang-orang disekelilingnya. Peka terhadap segala bentuk kesusahan orang lain sekecil apapun.
Saat ini Gea merasa kecil, ia tentu saja masih belum mampu menjadi seperti bapak itu ,setulus itu memberi tanpa menghiaraukan reaksi orang yang diberi. Tanpa disadari butiran air keluar dari pelupuk matanya, ia sangat terharu melihat bapak itu dan teringat akan mendiang almarhum kakek yang sangat dicintainya.
“Hal kecil yang bisa aku lakukan saat ini hanyalah mencegah orang lain menolak kebaikan orang yang tulus ingin menolong.” Bisik Gea kepada dirinya sendiri. Ia merasa damai dengan sosok renta yang masih berdiri dihadapannya tersenyum menatap lurus pemandangan ramai kota dari jendela bis.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar