Kakek Emas
Debu
berterbangan menyebar ke udara akibat sapuan seorang penyapu jalanan bertopi
jingga ditengah panas terik yang menyengat menjadi perhatian Gea. Gadis itu
duduk termangu di sebuah halte penuh dengan coretan dan kelupasan cat biru di
kanopinya serta keropos pada sepasang tiang penyangganya.
Disamping
Gea duduk seorang pemuda acak-acakan yang sedang menghisap rokoknya sambil
menatap lesu ke sepanjang jalan arteri yang ramai dengan kendaraan ibukota. Gea
mengalihkan pandangannya pada seorang ibu berkerudung sambil menggandeng seorang
anak laki-laki berseragam SD. Anak itu merengek karena kepanasan dan keletihan
sambil memeluk perutnya meringis, si Ibu pun mengomel pelan menentang rengekan
anaknya.
“Sabar
dek, ibu juga capek !”
Gea
melirik pergelangan tangannya yang putih dibalik kacamata gagang merah muda
yang bertengger manis dihidung mancungnya dan membatasi mata sipitnya.
“Astaga,
jamku mati!” Gea mengumpat pelan, suaranya memancing seorang pria yang
tiba-tiba menoleh, menatap sebentar kemudian berpaling lagi, acuh.
Pria
itu berpenampilan rapi dengan kemeja abu-abu yang tepat berdiri didepan ia
duduk dan menghalangi sedikit pandangannya pada jalan yang padat dan sibuk.
Pria itu mengepit beberapa map diketiaknya. Gea melihat keringat yang merembes
di kemeja belakangnya seperti sebuah cetakan berbentuk oval. Pria itu kemudian
bersandar letih di tiang. Mungkin sedang mencari pekerjaan. Batin Gea menebak.
Keempat
orang yang ada dihalte itu jelas mempunyai tujuan yang berbeda-beda namun
bersama dengan Gea mereka menunggu bis yang sama. Penuh harap ditengah kelesuan
dan kepadatan ibukota yang menyesakkan.
Ketika
ia masih memperhatikan iba tukang sapu jalanan, dari kejauhan Gea melihat bis
yang semakin merapat ke halte. Gea berdiri semangat menanti bis yang sudah
penuh sesak itu.
Ibu
bersama anaknya lah yang paling cekatan memasuki bis disusul dengan pria
pelamar kerja dan kemudian Gea. Rambut panjangnya berkibar sedikit dan kembali lesu ketika sudah
berada di dalam bis yang sesak.
Ketika
bis sudah mulai berjalan perlahan, entah mengapa perasaan Gea heran campur
kecewa ketika pemuda yang lusuh dengan rokok yang sudah diinjaknya kembali
duduk termenung di sudut halte. Tatapannya lurus. Seperti banyak masalah.
Kenapa
dengan orang itu ? apa masalahnya sampai-sampai tak jadi naik bis ini? tanya
Gea dalam hati, namun ia tahu pertanyaan itu sekedar pertanyaan tanpa jawaban.
Di
dalam bis ia pasrah berdiri dan jarinya terpancang pada pegangan gelang- gelang
langit-langit bis. Sebenarnya ia tak
kuat, dari pagi sebelum berangkat kuliaj ia belum sarapan dan sampai matahari
tepat berada di atas kepala iapun masih seperti puasa.
Tiba-tiba
pandangannya kabur dan serasa berputar-putar, ia mati rasa dan lemas, kepalanya
terjungkal kebelakang seperti tak memiliki berat lagi. Anemianya kambuh.
“Mbak
tidak apa-apa?” tanya wanita yang berdiri disampingnya sangat khawatir melihat
Gea secepat kilat kembali berdiri seperti tidak terjadi apa-apa.
“Hanya
ngantuk. Terima kasih.” Gea berbohong. Ia tak ingin membuat orang khawatir.
Deru
bis tertutupi oleh suara-suara kendaraan hilir mudik melewati dan mengiringi
bis yang dinaiki Gea. Ketika Gea melamun tiba-tiba saja ada yang menepuk
pundaknya. Sekuat tenaga ia menoleh dan berusaha fokus menatap orang yang
menepuknya.
“Ikut
saya kebelakang dek” suaranya parau. Seorang
kakek tersenyum ramah dan memegang erat lengan Gea, menariknya perlahan
menerobos orang-orang yang sedang berdiri bergantung. Gea menurut saja tanpa
berpikir panjang. Badannya sudah lemas dan ia juga tak dapat memberontak.
Sesampainya
disudut tempat duduk paling belakang kakek itu menyingkirkan tas kusam miliknya
dan tersedialah tempat duduk kosong. Sambil tetap tersenyum ia menggerakan
tangannya mengisyaratkan Gea untuk duduk.
“Hahh!”
Gea bengong, namun dengan penglihatannya yang samar-samar itu tentu saja tak
dapat merekayasa apa yang baru saja dilakukan kakek itu. Penampilan fisiknya
pun sudah tak begitu kuat lagi. Ia tak percaya.
“Silahkan
duduk saja, sepertinya anda lebih membutuhkan tempat duduk daripada saya.”
Sekali
lagi Gea menatap orang tua itu tak percaya, namun ia dengan mudahnya
mehempaskan tubuhnya ke kursi itu dalam hati bersyukur. Gea bingung, bagaimana
bisa kakek itu tahu ia sedang sakit. Jangan-jangan orang ini peramal atau malah
dokter. Batin Gea ngoceh.
Laki-laki
renta itu kini sedang berdiri agak bungkuk sambil memegang erat tasnya. Peluh
membasahi lehernya, wajahnya keras dengan lekukan keriput keriput tajam di
sekitar mata dan pelipisnya. Ketika ia berkedip tersirat aura renta dan muram
namun memancarkan pendar keemasan dan ketenangan batin bagi yang melihatnya.
Wajahnya sudah terpatri permanen sebuah senyuman. Bahkan ketika ia diam.
Seperti
patung yang hidup, kakek itu tiba-tiba bergerak dan merogoh bagian dalam tasnya
mengeluarkan sebuah botol air mineral yang masih tersegel. Dengan ramah
menawarkan pada anak laki-laki bersama ibunya tadi. Gea tersadar anak itu
sedari tadi memegangi tenggorokannya seperti sedang tercekat.
“Adik
mau minum? Ini ambil punya saya.” Anak itu ragu melihat tatapan ibunya yang
curiga dengan segala pikiran negatif. Akhinya dengan hasutan Sang Ibu, anak itu
menolak dengan nada yakin. Bibir keringnya mengatup kecewa kentara sekali
sangat kehausan. Melihat ekspresi itu, Sang kakek hanya tersenyum dan
memasukkan kembali botol air minumnya. Tak ada kekecewaan. Hanya ada suatu
pemahaman yang wajar.
Tiba-tiba
Gea berdiri dan mencegah botol itu kembali dimasukkan ke dalam tas.
“Permisi
ibu dan adik, saya tahu anak ibu sangat haus.” Gea terhenti sebentar menarik
napas dan melanjutkan dengan tatapan heran kakek itu.
“Ini
Kakek saya ingin membantu kok malah ditolak, kebetulan beliau sedang
puasa” untuk kedua kalinya Gea
berbohong. Sekali lagi kakek itu tersenyum menatap Gea dan tanpa ada keraguan
kembali menyodorkan air mineral itu
“Terima
kasih Kek!” jawab anak itu langsung menyambar air yang begitu menggiurkan
baginya.
Kali
ini pusing dan sakit Gea hilang, segala kepenatan menjalani hari ini dan
keluhan-keluhannya sirna. Menyaksikan seorang manusia mulia yang ikhlas
membantu dan begitu perhatian terhadap orang-orang disekelilingnya. Peka
terhadap segala bentuk kesusahan orang lain sekecil apapun.
Saat
ini Gea merasa kecil, ia tentu saja masih belum mampu menjadi seperti bapak itu
,setulus itu memberi tanpa menghiaraukan reaksi orang yang diberi. Tanpa
disadari butiran air keluar dari pelupuk matanya, ia sangat terharu melihat
bapak itu dan teringat akan mendiang almarhum kakek yang sangat dicintainya.
“Hal
kecil yang bisa aku lakukan saat ini hanyalah mencegah orang lain menolak
kebaikan orang yang tulus ingin menolong.” Bisik Gea kepada dirinya sendiri. Ia
merasa damai dengan sosok renta yang masih berdiri dihadapannya tersenyum
menatap lurus pemandangan ramai kota dari jendela bis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar