alhamdulilah, karya pertamaku termuat di koran Kaltim Post, gak nyangka banget, soalnya itu cerpen udah lama dkirim n gk prnh dpat konfirmasi, malah seperti gagal terkirim.
di minggu siang ini tanggal 31 maret 2013, aku berniat beli koran kaltimpost yang gak pernah ku beli, niatnya sih pengen liat cerpen orang buat ku jadikan pelajaran soalnya aku mau bikin cerpen lagi, mengingat cerpenku yang ku kirim kuanggap "failed" ..... eh ternyata ketika ku buka halaman cerpen. voila ! that's mine. huehehehe.... happy happy. this is first time...... :D .
Pengemis
Keliling
Sebuah
kotak plastik persegi empat dengan pegangan diatasnya dijinjing sedikit berayun
memasuki koridor kampus. Aroma khas pandan dari bolu kukus tercium oleh si
pembawa.
“Hari
ini promo, 1 kue 3 ribu tapi klo beli 3 cuma 7 ribu aja!” tukas Erin lantang,
bagai terkena sugesti teriakannya lantas memicu kerumunan teman-temannya
mendekat dan menyerbu habis seluruh dagangan paginya.
Setiap
hari Erin membantu ibunya yang single
parent itu berjualan kue dari sudut ke sudut kampus. Secara tidak langsung
dari hasil berjualan kue itulah Erin dapat terus meneruskan pendidikannya.
***
Asap
knalpot motor Erin menderu menyebarkan gas-gasnya ke udara bersamaan dengan
sahabatnya Hesti, motor mereka beriringan
menuju tempat makan siang sebelum memulai
kembali jam kuliah mereka.
“Rin
disini aja!” seru Hesti membunyikan klakson motornya sedikit mengejutkan Erin
yang sedang terhipnotis sensasi cekit-cekit di punggung tangannya karena efek panas terik.
Mereka
memasuki sebuah rumah makan. Di dalamnya tidak terlalu ramai. Beberapa orang duduk
terpisah-pisah dengan asik melahap santapan siang dihadapan mereka.
“Ayam
lalapan sama es jeruk 2 Bu!” Hesti memesan pada seorang ibu yang sibuk
membolak-balik ayam dipenggorengan. Ia
mengangguk. “Sebentar”.
Mereka
duduk di meja yang terletak paling dekat pintu keluar. Suasana riuh ramai jalan
raya serta polusi udara membuat penat indra penglihatan mereka.
“Disini
ayam lalapannya mantep Rin, apalagi sambelnya” tukas Hesti nyengir. Tangannya
menjangkau tissue yang terletak di pojok meja .
Tiba-tiba
wajah mereka berubah ketika seorang wanita yang ringkih namun belum terlalu tua
dengan pakaiannya terlihat lusuh selusuh wajahnya berjalan pelan memasuki rumah
makan tersebut. Sandal jepit yang ujung-ujungnya terkelupas meninggalkan jejak
jejak kotor dilantai rumah makan itu. Wajahnya lemas dengan tangan menengadah,
kentara sekali ingin mencari simpati. Namun Erin hanya melengos.
“Males
banget liat begitu, ganggu !” bisik Erin pada Hesti ketika pelayan tiba, meletakkan
pesanan mereka tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Mendengar itupun Hesti
hanya mengiyakan tanda setuju.
Ketika
pengemis itu menghampiri meja mereka, Hesti hanya terdiam menyibukkan diri
mengutak-ngutik handphone-nya
pertanda tak ingin memberi apa-apa. Tapi wanita tua itu tetap tak bergeming sambil
bergumam tak jelas minta dikasihani oleh mereka.
“Lewatin
aja bu,” jawab Erin tak sabar.
Mereka
memperhatikan cara pengemis itu
berkeliling ke setiap meja-meja pelanggan lainnya. Mengais seribu demi seribu
rupiah atau bahkan dua ribu demi dua ribu rupiah mengingat sekarang orang lebih
banyak mengantongi uang kecil dua ribuan daripada seribuan. Untung sekali !
batin Erin.
“Setiap
makan di sekitaran kampus aku pasti melihat orang itu, kuat ya! Sanggup keliling
jalan kaki panas panas gini___”
“Hanya
untuk minta-minta. Kuat sekali. Masih sehat !” sambung Erin dengan nada kesal
melanjutkan kata-kata Hesti.
“Coba
kamu bayangkan, dalam sehari pengemis seperti itu memasuki 10 rumah makan dan
setiap rumah makan yah paling banter
dapat seribu rupiah dari setiap 10 orang yang berhasil dimintainya. Bayangkan
keuntungannya dalam sehari, ckckck. Bayangkan!” Erin menggebu-gebu mengungkapkan
teorinya. Sahabatnya itu mengangguk bersemangat, wajahnya juga terlihat kesal.
“Yah
namanya juga cari uang, orang-orang seperti itu hanya memanfaatkan kedermawanan
dan kebaikan orang lain. Aku seribu kali
lebih menghargai pak’le pentol yang
keliling-keliling dengan gerobaknya. Haha “
Jawab Hesti suaranya tak jelas karena mulutnya dipenuhi makanan. Ekspresinya
lahap!
“Setuju,
kenapa gak kerja aja masih kuat gitu kok, apa susahnya keliling sambil membawa
dagangan, kerupuk opak misalnya. Langsung kuborong kalau ibu yang tadi jualan
kerupuk opak.” Kata Erin sambil tertawa terkekeh-kekeh namun tidak mengurangi
gerutu kesalnya. Sambil menyuap nasi hingga tersedak.
Namun
seperti yang telah diketahui mereka berdua bahwa terdapat semacam sindikat atau
pengorganisasian pengemis. Jadi kemungkinan besar pengemis pengemis yang tersebar
di penjuru kota mempunyai satu orang pimpinan yang siap mendapat setoran dari
mereka. Sudah merupakan rahasia umum hanya saja belum banyak dilakukan suatu
penyelidikan dan penelitian.
“Kalau
gak ada bosnya mungkin sebulan jadi pengemis, bulan depannya udah gak ngemis
lagi. Kita positive thinking aja Rin.
Siapa yang mau tebal muka ngemis-ngemis seperti itu kalau gak ada unsur paksaan
dari ‘orang yang diatasnya’. Ya kan?” oceh Hesti minta persetujuan. Matanya
tetap berkonsentrasi pada ayam lalapannya.
Erin
membalasnya hanya dengan gumaman tak jelas, ia membatin mengakui kebenaran
perkataan sahabatnya itu. Buktinya wajah-wajah lusuh yang sudah tak asing lagi
telah mengiringi kegiatan makan mereka selama mereka kuliah dan menurut
perhitungannya waktu yang sudah cukup lama untuk pengemis itu berhenti dan
bekerja ke tahap lebih tinggi lagi. Berjualan misalnya, namun tak sesuai
harapan. Mereka tetaplah pengemis yang sukarela melangkahkan kaki mereka minta
dikasihani dan tidak pernah berubah.
Bagaimana
dengan kesejahteraan, orang-orang seperti itu merupakan cerminan kegagalan
pemerintah yang menjanjikan rakyatnya untuk sejahtera dan memberdayakan
rakyatnya yang miskin. Disamping itu pengemis sudah diibaratkan suatu profesi
yang menguntungkan. Lantas apa mereka masih bisa disebut tidak sejahtera. Lahan
bisnis yang subur, kebanyakan pengemis, anjal (anak jalanan), peminta-minta
yang ‘cacat palsu’ itu berasal dari luar kota atau imigran. Sungguh ironi
orang-orang seperti itu memenuhi ibukota.
***
Hari
berikutnya Erin dan Hesti kembali memburu makan siang dan memutuskan menu bakso
yang akan mengisi perut mereka.
Mereka
menyantap bakso yang masih hangat dengan lahapnya sambil diiringi oleh genjrengan seorang pengamen laki-laki
muda yang tidak terlalu lusuh, nadanya bersemangat menyanyikan lagu-lagu country. Cerminan seorang pekerja keras.
Disaat yang bersamaan datang seorang pengemis persis seperti yang mereka lihat kemarin
melancarkan aksinya seperti biasa.
“Sedekahnya
Dik”
Erin
tersenyum mencurigakan, ia sepertinya memiliki rencana. Sementara Hesti terbengong-bengong penasaran.
Erin sengaja mengulur-ulur waktu hingga pengamen itu selesai bernyanyi dan tiba
di meja mereka sambil menyodorkan kaleng kecil berisi uang receh.
Erin
menarik 1 lembar 10 ribu dari dompetnya. Terdapat ekspresi keterkejutan dalam
raut wajah sang pengemis. Ia tak menyangka akan diberi uang sebanyak itu. Pikirnya.
Ternyata
uang itu meluncur memasuki kaleng milik pengamen dan seketika wajahnya sumringah dan tak hentinya mengucapkan terima
kasih pada Erin. Pengemis itu tetap berdiri dihadapan Erin, ia berharap diberi
sama oleh Erin, namun yang dilakukan Erin justru meletakkan sebungkus permen
karet ditangan yang menengadah itu.
Pengemis
itupun menelan ludah menatap sebentar permen karet itu. Tatapannya masam
bagaikan menerima sampah kemudian memutuskan untuk mengantonginya, sambil
mendengus kesal.
Kedua
gadis bersahabat itu menahan tawa mereka menjadi semacam gelak tersembunyi.
Mereka senyum-senyum sampai pengemis itu pergi.
“Aku
jauh lebih menghargai nyanyian pengamen daripada jejak pengemis yang hanya
meminta tanpa jerih payah” seru Erin mantap.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar