Minggu, 31 Maret 2013

Di minggu siang yang Cerah :D


alhamdulilah, karya pertamaku termuat di koran Kaltim Post, gak nyangka banget, soalnya itu cerpen udah lama dkirim n gk prnh dpat konfirmasi, malah seperti gagal terkirim. 
di  minggu siang ini tanggal 31 maret 2013, aku berniat beli koran kaltimpost yang gak pernah ku beli, niatnya sih pengen liat cerpen orang buat ku jadikan pelajaran soalnya aku mau bikin cerpen lagi, mengingat cerpenku yang ku kirim kuanggap "failed" ..... eh ternyata ketika ku buka halaman cerpen. voila ! that's mine. huehehehe.... happy happy. this is first time...... :D .

Pengemis Keliling
Sebuah kotak plastik persegi empat dengan pegangan diatasnya dijinjing sedikit berayun memasuki koridor kampus. Aroma khas pandan dari bolu kukus tercium oleh si pembawa.
“Hari ini promo, 1 kue 3 ribu tapi klo beli 3 cuma 7 ribu aja!” tukas Erin lantang, bagai terkena sugesti teriakannya lantas memicu kerumunan teman-temannya mendekat dan menyerbu habis seluruh dagangan paginya.
Setiap hari Erin membantu ibunya yang single parent itu berjualan kue dari sudut ke sudut kampus. Secara tidak langsung dari hasil berjualan kue itulah Erin dapat terus meneruskan pendidikannya.
***
Asap knalpot motor Erin menderu menyebarkan gas-gasnya ke udara bersamaan dengan sahabatnya Hesti, motor mereka  beriringan  menuju tempat makan siang sebelum memulai kembali jam kuliah mereka.
“Rin disini aja!” seru Hesti membunyikan klakson motornya sedikit mengejutkan Erin yang sedang terhipnotis sensasi cekit-cekit di punggung tangannya karena  efek panas terik.
Mereka memasuki sebuah rumah makan. Di dalamnya tidak terlalu ramai. Beberapa orang duduk terpisah-pisah dengan asik melahap santapan siang dihadapan mereka.
“Ayam lalapan sama es jeruk 2 Bu!” Hesti memesan pada seorang ibu yang sibuk membolak-balik ayam dipenggorengan.  Ia mengangguk. “Sebentar”.
Mereka duduk di meja yang terletak paling dekat pintu keluar. Suasana riuh ramai jalan raya serta polusi udara membuat penat indra penglihatan mereka.
“Disini ayam lalapannya mantep Rin, apalagi sambelnya” tukas Hesti nyengir. Tangannya menjangkau tissue yang terletak di pojok meja .
Tiba-tiba wajah mereka berubah ketika seorang wanita yang ringkih namun belum terlalu tua dengan pakaiannya terlihat lusuh selusuh wajahnya berjalan pelan memasuki rumah makan tersebut. Sandal jepit yang ujung-ujungnya terkelupas meninggalkan jejak jejak kotor dilantai rumah makan itu. Wajahnya lemas dengan tangan menengadah, kentara sekali ingin mencari simpati. Namun Erin hanya melengos.
“Males banget liat begitu, ganggu !” bisik Erin pada Hesti ketika pelayan tiba, meletakkan pesanan mereka tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Mendengar itupun Hesti hanya mengiyakan tanda setuju.
Ketika pengemis itu menghampiri meja mereka, Hesti hanya terdiam menyibukkan diri mengutak-ngutik handphone-nya pertanda tak ingin memberi apa-apa. Tapi wanita tua itu tetap tak bergeming sambil bergumam tak jelas minta dikasihani oleh mereka.
“Lewatin aja bu,” jawab Erin tak sabar.
Mereka memperhatikan cara  pengemis itu berkeliling ke setiap meja-meja pelanggan lainnya. Mengais seribu demi seribu rupiah atau bahkan dua ribu demi dua ribu rupiah mengingat sekarang orang lebih banyak mengantongi uang kecil dua ribuan daripada seribuan. Untung sekali ! batin Erin.
“Setiap makan di sekitaran kampus aku pasti melihat orang itu, kuat ya! Sanggup keliling jalan kaki panas panas gini___”
“Hanya untuk minta-minta. Kuat sekali. Masih sehat !” sambung Erin dengan nada kesal melanjutkan kata-kata Hesti.
“Coba kamu bayangkan, dalam sehari pengemis seperti itu memasuki 10 rumah makan dan setiap rumah makan yah paling banter dapat seribu rupiah dari setiap 10 orang yang berhasil dimintainya. Bayangkan keuntungannya dalam sehari, ckckck. Bayangkan!” Erin menggebu-gebu mengungkapkan teorinya. Sahabatnya itu mengangguk bersemangat, wajahnya juga terlihat kesal.
“Yah namanya juga cari uang, orang-orang seperti itu hanya memanfaatkan kedermawanan dan kebaikan orang lain.  Aku seribu kali lebih menghargai pak’le pentol yang keliling-keliling dengan gerobaknya. Haha “  Jawab Hesti suaranya tak jelas karena mulutnya dipenuhi makanan. Ekspresinya lahap!
“Setuju, kenapa gak kerja aja masih kuat gitu kok, apa susahnya keliling sambil membawa dagangan, kerupuk opak misalnya. Langsung kuborong kalau ibu yang tadi jualan kerupuk opak.” Kata Erin sambil tertawa terkekeh-kekeh namun tidak mengurangi gerutu kesalnya. Sambil menyuap nasi hingga tersedak.
Namun seperti yang telah diketahui mereka berdua bahwa terdapat semacam sindikat atau pengorganisasian pengemis. Jadi kemungkinan besar pengemis pengemis yang tersebar di penjuru kota mempunyai satu orang pimpinan yang siap mendapat setoran dari mereka. Sudah merupakan rahasia umum hanya saja belum banyak dilakukan suatu penyelidikan dan penelitian.
“Kalau gak ada bosnya mungkin sebulan jadi pengemis, bulan depannya udah gak ngemis lagi. Kita positive thinking aja Rin. Siapa yang mau tebal muka ngemis-ngemis seperti itu kalau gak ada unsur paksaan dari ‘orang yang diatasnya’. Ya kan?” oceh Hesti minta persetujuan. Matanya tetap berkonsentrasi pada ayam lalapannya.
Erin membalasnya hanya dengan gumaman tak jelas, ia membatin mengakui kebenaran perkataan sahabatnya itu. Buktinya wajah-wajah lusuh yang sudah tak asing lagi telah mengiringi kegiatan makan mereka selama mereka kuliah dan menurut perhitungannya waktu yang sudah cukup lama untuk pengemis itu berhenti dan bekerja ke tahap lebih tinggi lagi. Berjualan misalnya, namun tak sesuai harapan. Mereka tetaplah pengemis yang sukarela melangkahkan kaki mereka minta dikasihani dan tidak pernah berubah.
Bagaimana dengan kesejahteraan, orang-orang seperti itu merupakan cerminan kegagalan pemerintah yang menjanjikan rakyatnya untuk sejahtera dan memberdayakan rakyatnya yang miskin. Disamping itu pengemis sudah diibaratkan suatu profesi yang menguntungkan. Lantas apa mereka masih bisa disebut tidak sejahtera. Lahan bisnis yang subur, kebanyakan pengemis, anjal (anak jalanan), peminta-minta yang ‘cacat palsu’ itu berasal dari luar kota atau imigran. Sungguh ironi orang-orang seperti itu memenuhi ibukota.
***
Hari berikutnya Erin dan Hesti kembali memburu makan siang dan memutuskan menu bakso yang akan mengisi perut mereka.
Mereka menyantap bakso yang masih hangat dengan lahapnya sambil diiringi oleh genjrengan seorang pengamen laki-laki muda yang tidak terlalu lusuh, nadanya bersemangat menyanyikan lagu-lagu country. Cerminan seorang pekerja keras. Disaat yang bersamaan datang seorang pengemis persis seperti yang mereka lihat kemarin melancarkan aksinya seperti biasa.
“Sedekahnya Dik”
Erin tersenyum mencurigakan, ia sepertinya memiliki rencana.  Sementara Hesti terbengong-bengong penasaran. Erin sengaja mengulur-ulur waktu hingga pengamen itu selesai bernyanyi dan tiba di meja mereka sambil menyodorkan kaleng kecil  berisi uang receh.
Erin menarik 1 lembar 10 ribu dari dompetnya. Terdapat ekspresi keterkejutan dalam raut wajah sang pengemis. Ia tak menyangka akan diberi uang sebanyak itu. Pikirnya.
Ternyata uang itu meluncur memasuki kaleng milik pengamen dan seketika wajahnya  sumringah dan tak hentinya mengucapkan terima kasih pada Erin. Pengemis itu tetap berdiri dihadapan Erin, ia berharap diberi sama oleh Erin, namun yang dilakukan Erin justru meletakkan sebungkus permen karet ditangan yang menengadah itu.
Pengemis itupun menelan ludah menatap sebentar permen karet itu. Tatapannya masam bagaikan menerima sampah kemudian memutuskan untuk mengantonginya, sambil mendengus kesal.
Kedua gadis bersahabat itu menahan tawa mereka menjadi semacam gelak tersembunyi. Mereka senyum-senyum sampai pengemis itu pergi.
“Aku jauh lebih menghargai nyanyian pengamen daripada jejak pengemis yang hanya meminta tanpa jerih payah” seru Erin mantap.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar