Selasa, 26 Maret 2013

Cerita Pendek : Inspirasi oleh lagu Butiran Debu :)


Butiran Debu
Butiran debu berterbangan menghinggapi bulu kucing gemuk yang sedang tertidur pulas di teras sebuah rumah sederhana bercat kuning. Sebuah suara gelontangan yang       berasal dari dalam rumah diiringi teriakan lirih seorang wanita secara tiba-tiba membuat kucing gemuk itu terjaga dan mengeong-ngeong. Tak hanya kucing yang kaget, seorang gadis yang sedari tadi sibuk memotongi tanaman liar tepat di depan rumah spontan berlari masuk ke rumah dan melepas asal-asalan sandal jepitnya hingga tak sengaja menimpuk kepala kucing yang tiba-tiba berhenti mengeong dan kembali terpejam mengguliat.
“Astaga Mama !” Mata gadis itu melotot melihat seorang wanita paruh baya tersungkur lemah meronta-ronta. Sesaat matanya memperhatikan miris panci-panci, wajan dan beberapa piring pecah berserakan di dapur sempit rumah itu.
Tangan kasarnya memukul-memukul punggung gadis itu dengan suara “buk” yang keras. Kaila sedikit mengaduh namun ia tetap sabar. Pukulan kedua semakin keras dan sekali lagi bibir tipis Kaila hanya mengaduh lirih. Badan mungilnya merangkul kuat tubuh wanita itu yang tak berdaya.
“Mama jangan pukul Kaila terus dong ! Maafin Kaila yang telat ngasih obatnya.” Kata Kaila dengan tatapan sedih. Sudah tak terhitung lagi tangan putih mulus Kaila memberikan 2 butir pil, sebutir kapsul dan segelas air ke mulut ibunya. Ajaib ! Wanita yang tadinya meronta-ronta dan tak mengenal lelah untuk terus menghamburkan isi rumah tiba-tiba matanya terpejam seperti sedang tertidur. Sekejap keheningan sunyi menyita suasana rumah itu dan yang terdengar hanya kokok ayam jago tetangga seberang.
“Kakak belum mengirim uang bulanan Ma, terpaksa Kaila harus jualan koran lagi di tempat Bang Jali. Seandainya masih ada papa.” Kaila mengoceh sendiri di hadapan mamanya yang sedang terpejam. Kakaknya yang merantau di negeri orang memang sering tersendat-sendat mengirimkan uang.
Kaila memandangi tangan ibunya dan kemudian mengalihkan pandangan ke tumpukan pakaian sudah kering diangkat dari jemuran ketika adzan zuhur berkumandang. Ia menatapi  seragam putih abu-abu miliknya terselip dalam tumpukan. Perasaannya kacau karena beban kehidupan yang berat. Kaila seorang remaja berambut panjang lurus dan bertubuh mungil itu mempunyai prinsip bahwa sekeras apapun hidup yang dijalani sampai detik ini ia harus tetap bersekolah dan meraih impian setinggi mungkin.
“Awalnya baik pasti akhirnya akan baik-baik saja !” ucap Kaila yakin dengan tangannya yang mengepal. Walaupun dalam lubuk hatinya timbul keraguan yang tersirat. Namun hal itu coba ditepisnya.
***

Sepatu kets hitam yang sudah mulai pudar warnanya diraih Kaila, dimulutnya tersumpal potongan roti selai nanas. Sebelum berangkat Kaila memeluk dan mencium tangan ibunya walaupun hanya dibalas tatapan kosong Sang Mama.
“Kaila berangkat ya Ma, sebentar lagi ibu Asri datang temenin mama kok. “ kata Kaila sembari menerbitkan senyum manis pada mamanya yang membisu, ia seperti tak memahami ucapan anaknya.
Pagi itu hujan rintik menemani sepanjang perjalanan Kaila menuju sekolah. Bis penuh sesak walaupun masih jam 6 pagi. Di sepanjang perjalanan Kaila melamun. Ia memikirkan apakah Bu Asri tetangga sebelah yang sudah lama menjaga mamanya terlambat datang lagi. Kaila cemas kalau-kalau mamanya menciptakan keributan lagi. Kemudian pikirannya terlempar kepada mamanya yang hingga kini tak kunjung sembuh. Bu Wening menderita penyakit jiwa akut, kemungkinan untuk sembuh sangat kecil sekali. Kepala Kaila menunduk sedih memperhatikan sepatunya yang sudah lusuh. Satu-satunya kebahagiaan adalah kesembuhan Mama.
Ia tak menyangka kematian ayahnya karena kecelakaan hebat membuat perubahan besar pada mamanya. terakhir kali Kaila ingat mamanya menyalahkan dirinya sendiri sebagai penyebab kematian suaminya yang sangat dicintainya itu. Telah berbagai cara dilakukan untuk menyembuhkannya. Sampai-sampai Kaila tak pernah lagi memikirkan cinta-cintaan seperti yang sedang nge-trend di kalangan remaja. Sudah lama Kaila tidak pernah merasa berbunga-bunga apalagi terpikir untuk pacaran.

***

Peluh membasahi leher kaila yang ngos-ngosan berlari menuju rumahnya. Setelah mendengar alasan dari Bu Asri via telepon, untuk ketiga kalinya absen menjaga Bu Wening. Di depan rumah Kaila bengong, matanya tertuju pada sepasang sandal asing  tergeletak di teras. Ada orang ! Pikirnya.
“Assalamualaikum.” Tak ada yang menyahut, namun terdengar bunyi-bunyi bising bersumber dari dalam rumah, hatinya tak menentu, ternyata apa yang dikhawatirkan Kaila selama perjalanan pulang benar. Ia takut dan merasa bersalah membayangkannya mamanya yang tidak tahu apa-apa sendirian di rumah.
“hahh Mamaaa !” Jerit Kaila melihat mamanya yang kembali mengacak-acak isi rumah dan perabotan yang sudah terbalik dan terguling kemana-mana. Saking paniknya Kaila tak sadar ada seorang cowok yang sedari tadi memegangi tangan ibunya berusaha keras untuk menolong dan menghentikan semua kegaduhan itu.
Dengan gesit Kaila meminumkan obat mujarab pada mamanya dan ajaib suasana kembali hening. Kaila dan cowok itu saling memandang beberapa saat. Mereka berdua terlihat seumuran, t-shirt biru yang dikenakannya berkeringat. Kaila heran melihat celana jeans yang dipakainya digulung setengah lutut seperti orang kebanjiran. Mungkin dia panik melihat ibunya yang susah untuk diberhentikan. Tiba-tiba saja Kaila tersenyum melihat wajah lucu cowok itu yang sekilas terlihat manis. Sepertinya orang baik ! Simpul Kaila dalam hati.
“Sorry tadi aku gak sengaja denger ribut-ribut makanya aku samperin, oiya kenalin aku Reno. Aku orang baru disini.” Kata cowok itu sembari menjulurkan tangannya hendak bersalaman dan menerbitkan senyum terindah yang tak pernah dilihat Kaila sebelumnya. Suaranya yang lembut mengalir merasuk ke dalam pendengaran Kaila. Ia seperti sedang berada di sebuah tempat yang luas dengan angin sepoi-sepoi bertiup ringan, angin itu membuatnya terbang melayang-layang mengijinkannya untuk sejenak merasakan kebebasan dan ketenangan tiada tara yang diciptakan oleh sosok yang baru dikenalnya beberapa detik yang lalu. Tanpa sadar gadis itu mengeluarkan keringat, ia menjadi berdebar-debar. Kaila sadar ia sedang grogi dan tidak biasanya ia malu menatap mata indah cowok yang dihadapannya sekarang sedang meyandarkan ibunya perlahan di kursi.
Suasana yang berbunga-bunga menjadi sirna ketika suara rintihan ibunya membuat perhatian kedua remaja itu teralihkan. Mata Bu Wening terbuka perlahan dan secara ajaib ia memandangi Kaila, bibirnya bergerak bukan untuk berteriak akan tetapi sedikit demi sedikit wanita itu tersenyum lebar sambil memperhatikan anaknya yang terbengong-bengong.
“Kaila sayang ! Dia baik sekali. “ kata Bu Wening, suaranya terdengar samar-samar lebih seperti suara lirihan, jari telunjuknya menunjuk Reno dan sekali lagi tersenyum. Kontan saja Kaila seperti mau pingsan dan sekujur tubuhnya lemas. Semuanya tiba-tiba menjadi gelap gulita, Kaila seperti mendengar seseorang yang memanggil-manggil namanya sambil mengguncang tubuhnya, namun perasaan ini tak terjamah, tak dapat dimengerti, ini lebih dari sekedar bahagia. Ia berusaha untuk membuka matanya namun kegelapan masih menyita, tapi anehnya Kaila justru menikmati itu, luapan emosi kegembiraan terpancar sempurna sehingga ia tak takut dilanda kegelapan. Akhirnya guncangan terakhir membangunkannya dan membuatnya sadar bahwa ini bukan mimpi.
Kaila langsung memeluk mamanya, air mata mengalir pelan menyusuri pipinya dan bermuara di bahu ibunya yang masih tetap tersenyum. Inilah saatnya, Kaila yakin ini sebuah keajaiban bahwa ibunya pasti akan kembali seperti semula. Semua karena cinta. Cinta yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Kehadiran Reno merubah segalanya, sekarang ia tahu bagaimana cara menyembuhkan ibunya. Kaila sadar selama ini ibunya ingin Kaila dapat merasakan cinta layaknya remaja lain. Intinya Bu Wening ingin melihat anaknya bahagia.
“Aku sudah tahu banyak tentangmu Kaila, jujur saja pertama aku melihatmu, aku mengagumimu dan aku pikir mungkin ini saat yang tepat.” Kata Reno yang suaranya sedikit tersendat. Cara bicaranya membuat Kaila terpesona dan saat itu ia tahu lelaki yang ada dihadapannya terlihat tulus. Ada sedikit kecanggungan ketika Reno menunggu jawaban Kaila yang terdiam membisu. Kaila tak sanggup berkata-kata lagi. Rasa bahagia yang memuncak membuatnya bisu sejenak.
Reno memegang tangan Kaila dan tersenyum, seakan-akan ia dapat membaca hati Kaila. “Terima kasih Reno telah membuatku mengerti sebuah kebahagiaan yang sederhana. Aku bahagia didekatmu walaupun aku tak mengerti mengapa bisa begitu.” Ucap Kaila dalam hati.

***

Namaku Cinta
Ketika kita bersama berbagi rasa untuk selamanya
Namaku Cinta
Ketika kita bersama berbagi rasa sepanjang usia
Alunan lagu dari Rumor-Butiran Debu mengalir lembut menggema disetiap sudut rumah itu ketika Reno memutar MP3-nya sambil menyuapi Bu Wening yang kondisinya semakin baik. Disampingnya duduk Kaila dengan rona wajah ceria sembari menyandarkan kepalanya di bahu Reno. Kini suasana rumah itu menjadi lebih hidup dan berwarna. Bagi Kaila, Reno seperti malaikat yang menyelamatkan dirinya dari kekosongan hati selama ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar