Butiran Debu
Butiran
debu berterbangan menghinggapi bulu kucing gemuk yang sedang tertidur pulas di
teras sebuah rumah sederhana bercat kuning. Sebuah suara gelontangan yang berasal dari dalam rumah diiringi
teriakan lirih seorang wanita secara tiba-tiba membuat kucing gemuk itu terjaga
dan mengeong-ngeong. Tak hanya kucing yang kaget, seorang gadis yang sedari
tadi sibuk memotongi tanaman liar tepat di depan rumah spontan berlari masuk ke
rumah dan melepas asal-asalan sandal jepitnya hingga tak sengaja menimpuk
kepala kucing yang tiba-tiba berhenti mengeong dan kembali terpejam mengguliat.
“Astaga
Mama !” Mata gadis itu melotot melihat seorang wanita paruh baya tersungkur lemah
meronta-ronta. Sesaat matanya memperhatikan miris panci-panci, wajan dan
beberapa piring pecah berserakan di dapur sempit rumah itu.
Tangan
kasarnya memukul-memukul punggung gadis itu dengan suara “buk” yang keras.
Kaila sedikit mengaduh namun ia tetap sabar. Pukulan kedua semakin keras dan
sekali lagi bibir tipis Kaila hanya mengaduh lirih. Badan mungilnya merangkul
kuat tubuh wanita itu yang tak berdaya.
“Mama
jangan pukul Kaila terus dong ! Maafin Kaila yang telat ngasih obatnya.” Kata Kaila
dengan tatapan sedih. Sudah tak terhitung lagi tangan putih mulus Kaila memberikan
2 butir pil, sebutir kapsul dan segelas air ke mulut ibunya. Ajaib ! Wanita yang
tadinya meronta-ronta dan tak mengenal lelah untuk terus menghamburkan isi
rumah tiba-tiba matanya terpejam seperti sedang tertidur. Sekejap keheningan sunyi
menyita suasana rumah itu dan yang terdengar hanya kokok ayam jago tetangga
seberang.
“Kakak
belum mengirim uang bulanan Ma, terpaksa Kaila harus jualan koran lagi di
tempat Bang Jali. Seandainya masih ada papa.” Kaila mengoceh sendiri di hadapan
mamanya yang sedang terpejam. Kakaknya yang merantau di negeri orang memang
sering tersendat-sendat mengirimkan uang.
Kaila
memandangi tangan ibunya dan kemudian mengalihkan pandangan ke tumpukan pakaian
sudah kering diangkat dari jemuran ketika adzan zuhur berkumandang. Ia menatapi
seragam putih abu-abu miliknya terselip
dalam tumpukan. Perasaannya kacau karena beban kehidupan yang berat. Kaila
seorang remaja berambut panjang lurus dan bertubuh mungil itu mempunyai prinsip
bahwa sekeras apapun hidup yang dijalani sampai detik ini ia harus tetap bersekolah
dan meraih impian setinggi mungkin.
“Awalnya
baik pasti akhirnya akan baik-baik saja !” ucap Kaila yakin dengan tangannya
yang mengepal. Walaupun dalam lubuk hatinya timbul keraguan yang tersirat.
Namun hal itu coba ditepisnya.
***
Sepatu
kets hitam yang sudah mulai pudar warnanya diraih Kaila, dimulutnya tersumpal potongan
roti selai nanas. Sebelum berangkat Kaila memeluk dan mencium tangan ibunya
walaupun hanya dibalas tatapan kosong Sang Mama.
“Kaila
berangkat ya Ma, sebentar lagi ibu Asri datang temenin mama kok. “ kata Kaila
sembari menerbitkan senyum manis pada mamanya yang membisu, ia seperti tak
memahami ucapan anaknya.
Pagi
itu hujan rintik menemani sepanjang perjalanan Kaila menuju sekolah. Bis penuh
sesak walaupun masih jam 6 pagi. Di sepanjang perjalanan Kaila melamun. Ia
memikirkan apakah Bu Asri tetangga sebelah yang sudah lama menjaga mamanya
terlambat datang lagi. Kaila cemas kalau-kalau mamanya menciptakan keributan
lagi. Kemudian pikirannya terlempar kepada mamanya yang hingga kini tak kunjung
sembuh. Bu Wening menderita penyakit jiwa akut, kemungkinan untuk sembuh sangat
kecil sekali. Kepala Kaila menunduk sedih memperhatikan sepatunya yang sudah
lusuh. Satu-satunya kebahagiaan adalah kesembuhan Mama.
Ia
tak menyangka kematian ayahnya karena kecelakaan hebat membuat perubahan besar
pada mamanya. terakhir kali Kaila ingat mamanya menyalahkan dirinya sendiri
sebagai penyebab kematian suaminya yang sangat dicintainya itu. Telah berbagai
cara dilakukan untuk menyembuhkannya. Sampai-sampai Kaila tak pernah lagi
memikirkan cinta-cintaan seperti yang sedang nge-trend di kalangan remaja. Sudah
lama Kaila tidak pernah merasa berbunga-bunga apalagi terpikir untuk pacaran.
***
Peluh
membasahi leher kaila yang ngos-ngosan berlari menuju rumahnya. Setelah mendengar
alasan dari Bu Asri via telepon, untuk ketiga kalinya absen menjaga Bu Wening. Di
depan rumah Kaila bengong, matanya tertuju pada sepasang sandal asing tergeletak di teras. Ada orang ! Pikirnya.
“Assalamualaikum.”
Tak ada yang menyahut, namun terdengar bunyi-bunyi bising bersumber dari dalam
rumah, hatinya tak menentu, ternyata apa yang dikhawatirkan Kaila selama
perjalanan pulang benar. Ia takut dan merasa bersalah membayangkannya mamanya
yang tidak tahu apa-apa sendirian di rumah.
“hahh
Mamaaa !” Jerit Kaila melihat mamanya yang kembali mengacak-acak isi rumah dan
perabotan yang sudah terbalik dan terguling kemana-mana. Saking paniknya Kaila
tak sadar ada seorang cowok yang sedari tadi memegangi tangan ibunya berusaha
keras untuk menolong dan menghentikan semua kegaduhan itu.
Dengan
gesit Kaila meminumkan obat mujarab pada mamanya dan ajaib suasana kembali
hening. Kaila dan cowok itu saling memandang beberapa saat. Mereka berdua
terlihat seumuran, t-shirt biru yang dikenakannya berkeringat. Kaila heran
melihat celana jeans yang dipakainya digulung setengah lutut seperti orang
kebanjiran. Mungkin dia panik melihat ibunya yang susah untuk diberhentikan. Tiba-tiba
saja Kaila tersenyum melihat wajah lucu cowok itu yang sekilas terlihat manis. Sepertinya
orang baik ! Simpul Kaila dalam hati.
“Sorry
tadi aku gak sengaja denger ribut-ribut makanya aku samperin, oiya kenalin aku
Reno. Aku orang baru disini.” Kata cowok itu sembari menjulurkan tangannya
hendak bersalaman dan menerbitkan senyum terindah yang tak pernah dilihat Kaila
sebelumnya. Suaranya yang lembut mengalir merasuk ke dalam pendengaran Kaila.
Ia seperti sedang berada di sebuah tempat yang luas dengan angin sepoi-sepoi
bertiup ringan, angin itu membuatnya terbang melayang-layang mengijinkannya
untuk sejenak merasakan kebebasan dan ketenangan tiada tara yang diciptakan
oleh sosok yang baru dikenalnya beberapa detik yang lalu. Tanpa sadar gadis itu
mengeluarkan keringat, ia menjadi berdebar-debar. Kaila sadar ia sedang grogi
dan tidak biasanya ia malu menatap mata indah cowok yang dihadapannya sekarang
sedang meyandarkan ibunya perlahan di kursi.
Suasana
yang berbunga-bunga menjadi sirna ketika suara rintihan ibunya membuat
perhatian kedua remaja itu teralihkan. Mata Bu Wening terbuka perlahan dan
secara ajaib ia memandangi Kaila, bibirnya bergerak bukan untuk berteriak akan
tetapi sedikit demi sedikit wanita itu tersenyum lebar sambil memperhatikan
anaknya yang terbengong-bengong.
“Kaila
sayang ! Dia baik sekali. “ kata Bu Wening, suaranya terdengar samar-samar
lebih seperti suara lirihan, jari telunjuknya menunjuk Reno dan sekali lagi
tersenyum. Kontan saja Kaila seperti mau pingsan dan sekujur tubuhnya lemas.
Semuanya tiba-tiba menjadi gelap gulita, Kaila seperti mendengar seseorang yang
memanggil-manggil namanya sambil mengguncang tubuhnya, namun perasaan ini tak
terjamah, tak dapat dimengerti, ini lebih dari sekedar bahagia. Ia berusaha
untuk membuka matanya namun kegelapan masih menyita, tapi anehnya Kaila justru
menikmati itu, luapan emosi kegembiraan terpancar sempurna sehingga ia tak
takut dilanda kegelapan. Akhirnya guncangan terakhir membangunkannya dan
membuatnya sadar bahwa ini bukan mimpi.
Kaila
langsung memeluk mamanya, air mata mengalir pelan menyusuri pipinya dan bermuara
di bahu ibunya yang masih tetap tersenyum. Inilah saatnya, Kaila yakin ini
sebuah keajaiban bahwa ibunya pasti akan kembali seperti semula. Semua karena
cinta. Cinta yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Kehadiran Reno merubah
segalanya, sekarang ia tahu bagaimana cara menyembuhkan ibunya. Kaila sadar selama
ini ibunya ingin Kaila dapat merasakan cinta layaknya remaja lain. Intinya Bu
Wening ingin melihat anaknya bahagia.
“Aku
sudah tahu banyak tentangmu Kaila, jujur saja pertama aku melihatmu, aku
mengagumimu dan aku pikir mungkin ini saat yang tepat.” Kata Reno yang suaranya
sedikit tersendat. Cara bicaranya membuat Kaila terpesona dan saat itu ia tahu
lelaki yang ada dihadapannya terlihat tulus. Ada sedikit kecanggungan ketika
Reno menunggu jawaban Kaila yang terdiam membisu. Kaila tak sanggup berkata-kata
lagi. Rasa bahagia yang memuncak membuatnya bisu sejenak.
Reno
memegang tangan Kaila dan tersenyum, seakan-akan ia dapat membaca hati Kaila. “Terima
kasih Reno telah membuatku mengerti sebuah kebahagiaan yang sederhana. Aku bahagia
didekatmu walaupun aku tak mengerti mengapa bisa begitu.” Ucap Kaila dalam
hati.
***
Namaku Cinta
Ketika kita bersama berbagi rasa
untuk selamanya
Namaku Cinta
Ketika kita bersama berbagi rasa
sepanjang usia
Alunan
lagu dari Rumor-Butiran Debu mengalir lembut menggema disetiap sudut rumah itu
ketika Reno memutar MP3-nya sambil menyuapi Bu Wening yang kondisinya semakin
baik. Disampingnya duduk Kaila dengan rona wajah ceria sembari menyandarkan
kepalanya di bahu Reno. Kini suasana rumah itu menjadi lebih hidup dan berwarna.
Bagi Kaila, Reno seperti malaikat yang menyelamatkan dirinya dari kekosongan
hati selama ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar