Suara gemeretakan gigi begitu
kentara terjalin disebuah ruangan pengab beriringan dengan degup jantung yang
memberontak di dada, kedua remaja laki-laki mengendap-endap dan bergidik.
Patahan ranting pinus digenggamnya erat-erat. Mereka terdiam lama membisu,
jangankan bergerak, menghembuskan nafas saja mereka enggan.
Tiba-tiba suara ledakan
terdengar dari luar. Teriakan senjata-senjata mengaum melontarkan peluru-peluru
liar dan mencabik apa saja yang ada dihadapannya. Kedua anak muda itu makin
bergidik.
“Apa ini perang Dar?”
tanya Gredan polos, matanya terpejam, ia ketakutan sekali.
“Bukan, ini perjuangan
sobat. Bagaimana? Kau mau maju bersamaku?” lesung pipitnya muncul dalam
senyuman liarnya. Gairah begitu terasa diantara mereka. Namun rekannya yang
masih terpejam mendadak lemah lesu ketakutan, ia menggeleng sekuat tenaga dan
tangannya memegang erat lengan Daryo.
Dentuman
gedebuman koar-koar makin menggelegar bagaikan Guntur tanpa petir. Suasana
makin terpuruk dan mereka terpojok ketika tiba-tiba saja pintu menjeblak
terbanting membuka. Tiga orang berbadan kekar, tegap dengan senjata
menggelayuti tubuh mereka memburu beringas tanpa suara kearah dua anak muda
yang menggigil bukan karena kedinginan.
Pohon-pohon berdiameter
besar masih berdiri kokoh setia memayungi kawasan asri sebuah rumah bambu yang koyak dengan halaman yang
luas. Mata hijaunya merem melek, berjengit-jengit nyaman diatas sebuah kursi
goyang peyot yang mengayun dramatis. Beberapa kumpulan pinus dan beringin
melambaikan pelan daunnya ramah. Menyapa sosok rapuh dan ringkih yang sedang
menyunggingkan senyum damai.
Senyum sapa untuk
sahabat lama. “seandainya waktu tak pernah terampas dariku” tangan berkeriput
putih pucat melambai pada udara seakan-akan ingin menyentuh sesuatu yang tak
kelihatan, kepalanya mendongak perlahan keatas menatapi langit mendung sendu
sambil terpejam mengenang saat-saat itu.
Saat-saat dimana ia
dalam koar-koar gairah muda dan kekanak-kanakkan berlari-lari hinggap dari satu
pohon ke pohon lain layaknya kupu-kupu bersayap panjang yang bebas menari-nari
kemana saja, berkejar-kejaran bersama teman main dan justru tertawa keras
ketika direngkuh lawan pertanda tertangkap dalam permainan petak umpet, lalu mereka berteriak tak
ada beban, tak ada sesenggukkan, yang ada hanya keceriaan walau didominasi
musim kelabu saat itu. Dua bocah yang penuh peluh bersandar pada batang pohon
berlubang langganan mereka, bersenda gurau dan saling menyikut sebentar
kemudian tertidur.
“Kau masih ingat bagaimana
aroma pepohonan ini, dapat kau hirup?”suara parau terdengar begitu jelas pada
liang telinganya, dari suaranya yang parau dan terdengar ringkih dapat ditebak
berasal dari tua renta juga seperti dirinya
“Daryo? Astaga! Kaukah
itu Daryo? Sungguh Daryo Si Picak?” jerit lemah lelaki tua itu berpaling,
matanya langsung tertuju pada sosok anggun yang sedang berdiri dengan gagah, gelagat
lelaki tua di kursi goyang itu bagaikan bertemu hantu sekaligus bertemu
kekasih. Tubuhnya gemetaran tak percaya akan rupa yang sedang dilihatnya. Sang
lawan bicara hanya bisa tertawa. Tawa yang getir.
“Kau sudah pikun
rupanya kawan. Aku bukan Daryo si Picak. Aku Daryo si Pitak” suaranya bergema
didinding bambu yang catnya sudah terkelupas. Ia terbahak-bahak melihat
sahabatnya yang linglung. Masih dalam keadaan terbahak Daryo mengangkat sedikit
topinya menunjukkan bekas goresan bagaikan petak kecil pada ubun-ubunnya.
Pitak!
“Kau setua ini dan tak
pernah mengunjungiku? Sahabatkah itu? Kau tak tahu sebegitu rindunya ku padamu.
Pohon-pohon didepan mataku ini sudah kuanggap seperti kau Pitak!” ia mengomel
pada Daryo yang masih tak henti terbahak sambil mengusap-usap punggung
tangannya yang berkulit gelap.
“Aku
sembunyi Gredan, dari para pelahap maut. Kau tak tahu perjuangan hidupku sejak
kita terpisah saat usia 14 tahun.” Suaranya lebih seperti bisikan, sebuah
bisikan yang menenangkan. Topi mayoretnya dilepas dan dikipas-kipaskan walau
tak ada anginnnya. Gundukan uban-uban yang sedari tadi terkungkung dalam topi
pengab dapat bernafas lega memamerkan kilauan putihnya yang kentara, tak ada
sedikitpun rambut hitam yang nangkring di kepalanya.
“Ahh,
aku tak percaya di usia itu kita masih gemar berkejaran seperti rusa mabuk!” kenang
Daryo, wajah tuanya masih tampak muda, kacamata bundar sedikit bergeser dari
hidungnya yang bengkok , ia lagi-lagi mengirimkan senyum damai pada Gredan yang
melongo menatapi sahabatnya itu.
“Sejak saat itu aku
berjuang Gre. Yah! Selama seminggu aku disiksa namun aku bangkit. Kabur dari
markas mengerikan itu. Awal karirku. Awal lencanaku yang pasti karena
keberanianku.” Daryo menyombongkan dirinya didepan Gredan yang mendadak tuli
dan acuh.
“Aku sampai sekarang
tak mengerti mengapa aku saat itu menderita juga sepertimu.” suaranya pelan
seperti bergumam pada diri sendiri, rambut pirang kombinasi putih ubannya
tertiup angin dan terpantul cahaya matahari menghasilkan efek pendar keemasan.
“Ah ya, Kau Belanda.
Aku hampir lupa.” Daryo menjawab sedikit
ketus.
Mereka berdua tak
hentinya berdebat hingga malam menjemput. Nyanyian jangkrik menjadi pengiring
nostalgia mereka.
Tepat 63 tahun yang
lalu mereka dipertemukan dalam kondisi berat, ketika Gredan dibuang oleh
keluarga pirangnya karena berkhianat pada darahnya sendiri. Stasiun kereta
Gambara menjadi saksi bisu pertemuan yang menjadi awal persahabatan mereka. Dua
dunia, perbedaan begitu kental menyelimuti. Mereka bagaikan musuh yang siap
menerkam. Namun kenyataannya mereka saling melembutkan, menguatkan dan
mengokohkan.
Daryo sosok yang tegar,
ia hidup sebatang kara di tanah ibu pertiwi sebagai gelandangan turun ke jalan
yang memiliki keberanian sebesar singa. Terlihat kegagahan di usianya yang
masih muda walaupun dalam balutan baju sobek-sobek. Kharismanya memancar
membuat sang anak penjajah begitu terpana pada pribumi yang kuat seperti Daryo.
Pandangan mata mereka
bertemu. Tatapan Daryo merasuk memenuhi relung Gredan. “Ceklek!” pintu hatinya
terbuka ketika lama sudah ia tertelungkup sembunyi dalam kesendirian tanpa
gairah. Ia yakin Daryo merupakan paket kiriman dari Tuhan sebagai pencerah
hidupnya, ditengah keputusasaannya sebagai anak terbuang.
Pada kenyataaanya
mereka benar-benar saling menguatkan dalam keadaan terpisah sekalipun,
terkungkung oleh bala tentara jahannam. Mereka tak pernah bertemu lagi sejak
itu, meneruskan perjuangan hidup sendiri-sendiri, menelusuri jalan setapak
curam menuju kemerdekaan, kesukacitaan dan kebahagiaan. Saat itu Gredan yang
keberaniannya hanya sebesar otak tikus berharap diistemewakan karena darahnya,
gennya yang mencolok dapat menipu seakan-akan ia sebagai pihak pembuat bencana
yang menjajah negeri subur ini. Namun diluar dugaan, ia berharap terlalu indah.
Ketika ditangkap ia disiksa bagaikan binatang, kakinya dirantai. Dijadikan
budak “permata” selama bertahun-tahun dan diolok-olok karena fisiknya yang
berkhianat.
“Mereka menendangku
berkali-kali Dar, mereka benar-benar membenciku. Namun untungnya aku tak sampai
tewas.” Ujar Gredan dengan sedikit gelak namun gelak yang kecut.
“Sebenarnya mereka semua
saudaramu Gre, aku sudah yakin sejak awal kau pasti baik-baik saja.”
“Tetap saja aku ingin
kabur dari tempat busuk itu!”
Penderitaan Gredan
lenyap ketika ia berhasil diselamatkan oleh sekumpulan pejuang pemberani
bersenjata kayu menebas penjara siksaannya dan membawa pergi Gredan
sejauh-jauhnya. Melatih Gredan menjadi pejuang pribumi dan menjadikannya sosok
yang begitu pemberani. Perjuangannya begitu terkenal karena fisiknya yang menipu
dan menentang. Ikat merah putih selalu setia memeluk erat kepalanya ketika
bertempur dan bergerilya. Menjalankan amanah sebagai pejuang bagaikan profesi dengan
karirnya yang memuncak . Gredan dipercaya sebagai agen rahasia.
Diandalkan sebagai
mata-mata, menyusup dan menyamar dengan cerdik memasuki daerah lawan dimana
banyak orang-orang yang sama persis dengan fisiknya. Strategi ini selalu
berhasil menggempurkan pihak lawan, memperkenalkan sebuah strategi yang ampuh
menyiasati minimnya persenjataan. Namun Gredan rela namanya tak pernah tertulis
dalam pena sejarah bangsa dan bahkan tak pernah disebut-sebut.
Lain
halnya dengan Daryo, kehidupannya penuh dengan peluh, pertempuran yang banyak terjadi dalam wadah perairan, gempuran
ombak-ombak yang menghempaskan tubuhnya, memamerkan otot-otot perkasa dan
teriakan-teriakan penuh semangat perjuangan. Menerjang menangkis meriam api
sang lawan. Dedikasinya sebagai pejuang tak sepopuler Gredan, hanya sebagai
anak buah yang berdiri dalam barisan tak terlihat. Akan tetapi Daryo lebih
memiliki pengalaman, pengalaman-pengalaman yang berhadapan dengan maut dan
hampir bersalaman dengan maut.
“Negeri
ini sudah lama merdeka Gre. Aku bangga telah pontang panting didalamnya”
“Aku
sudah merdeka jauh sebelum Indonesia merdeka Dar. Itu karena hadirnya dirimu.”
“Jangan
lupa, busungkan dadamu selalu! Perlihatkan bahwa kau adalah seorang yang kuat.”
Matanya bergairah meruncing sehingga menusuk bola mata Gredan.
Semilir angin dingin menggelitik
wajah Gredan dan menembus nakal melewati baju sweaternya. Mata Gredan terbuka
perlahan dengan kepalanya yang masih mendongak. Langit yang tadi membiru
berubah gelap dengan bintang-bintang yang menyebar indah. Ia tadi tertidur. Memimpikan
sosok pujaan hati, penyemangat jiwa, Daryo mendatanginya merengkuh bahunya dan
mengajak bercanda tawa lagi. Berdebat hebat dalam dua watak yang berbeda. Namun
ia tahu itu hanya sekedar mimpi.
Wajah Daryo masih
menggelayuti hari-harinya yang kelam. Telah terlewat 20 tahun ia dijemput
malaikat maut menemui sang pencipta dan damai disisinya. Tak sempat bersua dan
mengecup kening sahabat untuk terakhir kalinya merupakan satu hal yang paling
disesali Gredan hingga kini. “Serasa baru kemarin kau meninggalkanku?”
Saat itu Gredan dinyatakan
lumpuh oleh dokter, pada saat yang bersamaan Daryo meninggalkan dirinya tanpa
pernah bertemu sebelumnya. Mereka terpisah ketika hidup dan dipertemukan lagi
dalam kematian. Kesepian Gredan tak pernah terobati. Sekarang hanyalah
menyiapkan diri untuk dijemput dalam usianya yang senja dan menari-nari indah
menemui sahabat sejati yang begitu dicintainya lebih dari mendiang istrinya
sendiri.
“Mimpi yang paling
kunanti-nanti, akhirnya kau menemuiku” Gredan membatin. Baginya sosok Daryo
merupakan setengah dari kehidupannya dan jiwanya. Sebagai penggerak energi
positif di sepanjang hidupnya.
“Aku tak pernah pergi
darimu, Kawan” bisik-bisik sendu menyusup liang telinga Gredan. Ia tersentak kaget. Kemudian tersenyum
kembali mengenang.
“Ahh, Pitak!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar