Senin, 26 Agustus 2013

SAHABAT DUA DUNIA


Suara gemeretakan gigi begitu kentara terjalin disebuah ruangan pengab beriringan dengan degup jantung yang memberontak di dada, kedua remaja laki-laki mengendap-endap dan bergidik. Patahan ranting pinus digenggamnya erat-erat. Mereka terdiam lama membisu, jangankan bergerak, menghembuskan nafas saja mereka enggan.
Tiba-tiba suara ledakan terdengar dari luar. Teriakan senjata-senjata mengaum melontarkan peluru-peluru liar dan mencabik apa saja yang ada dihadapannya. Kedua anak muda itu makin bergidik.
“Apa ini perang Dar?” tanya Gredan polos, matanya terpejam, ia ketakutan sekali.
“Bukan, ini perjuangan sobat. Bagaimana? Kau mau maju bersamaku?” lesung pipitnya muncul dalam senyuman liarnya. Gairah begitu terasa diantara mereka. Namun rekannya yang masih terpejam mendadak lemah lesu ketakutan, ia menggeleng sekuat tenaga dan tangannya memegang erat lengan Daryo.
Dentuman gedebuman koar-koar makin menggelegar bagaikan Guntur tanpa petir. Suasana makin terpuruk dan mereka terpojok ketika tiba-tiba saja pintu menjeblak terbanting membuka. Tiga orang berbadan kekar, tegap dengan senjata menggelayuti tubuh mereka memburu beringas tanpa suara kearah dua anak muda yang menggigil bukan karena kedinginan.


Pohon-pohon berdiameter besar masih berdiri kokoh setia memayungi kawasan asri sebuah  rumah bambu yang koyak dengan halaman yang luas. Mata hijaunya merem melek, berjengit-jengit nyaman diatas sebuah kursi goyang peyot yang mengayun dramatis. Beberapa kumpulan pinus dan beringin melambaikan pelan daunnya ramah. Menyapa sosok rapuh dan ringkih yang sedang menyunggingkan senyum damai.
Senyum sapa untuk sahabat lama. “seandainya waktu tak pernah terampas dariku” tangan berkeriput putih pucat melambai pada udara seakan-akan ingin menyentuh sesuatu yang tak kelihatan, kepalanya mendongak perlahan keatas menatapi langit mendung sendu sambil terpejam mengenang saat-saat itu.
Saat-saat dimana ia dalam koar-koar gairah muda dan kekanak-kanakkan berlari-lari hinggap dari satu pohon ke pohon lain layaknya kupu-kupu bersayap panjang yang bebas menari-nari kemana saja, berkejar-kejaran bersama teman main dan justru tertawa keras ketika direngkuh lawan pertanda  tertangkap dalam permainan petak umpet, lalu mereka berteriak tak ada beban, tak ada sesenggukkan, yang ada hanya keceriaan walau didominasi musim kelabu saat itu. Dua bocah yang penuh peluh bersandar pada batang pohon berlubang langganan mereka, bersenda gurau dan saling menyikut sebentar kemudian tertidur.
“Kau masih ingat bagaimana aroma pepohonan ini, dapat kau hirup?”suara parau terdengar begitu jelas pada liang telinganya, dari suaranya yang parau dan terdengar ringkih dapat ditebak berasal dari tua renta juga seperti dirinya
“Daryo? Astaga! Kaukah itu Daryo? Sungguh Daryo Si Picak?” jerit lemah lelaki tua itu berpaling, matanya langsung tertuju pada sosok anggun yang sedang berdiri dengan gagah, gelagat lelaki tua di kursi goyang itu bagaikan bertemu hantu sekaligus bertemu kekasih. Tubuhnya gemetaran tak percaya akan rupa yang sedang dilihatnya. Sang lawan bicara hanya bisa tertawa. Tawa yang getir.
“Kau sudah pikun rupanya kawan. Aku bukan Daryo si Picak. Aku Daryo si Pitak” suaranya bergema didinding bambu yang catnya sudah terkelupas. Ia terbahak-bahak melihat sahabatnya yang linglung. Masih dalam keadaan terbahak Daryo mengangkat sedikit topinya menunjukkan bekas goresan bagaikan petak kecil pada ubun-ubunnya. Pitak!
“Kau setua ini dan tak pernah mengunjungiku? Sahabatkah itu? Kau tak tahu sebegitu rindunya ku padamu. Pohon-pohon didepan mataku ini sudah kuanggap seperti kau Pitak!” ia mengomel pada Daryo yang masih tak henti terbahak sambil mengusap-usap punggung tangannya yang berkulit gelap.
“Aku sembunyi Gredan, dari para pelahap maut. Kau tak tahu perjuangan hidupku sejak kita terpisah saat usia 14 tahun.” Suaranya lebih seperti bisikan, sebuah bisikan yang menenangkan. Topi mayoretnya dilepas dan dikipas-kipaskan walau tak ada anginnnya. Gundukan uban-uban yang sedari tadi terkungkung dalam topi pengab dapat bernafas lega memamerkan kilauan putihnya yang kentara, tak ada sedikitpun rambut hitam yang nangkring di kepalanya.
“Ahh, aku tak percaya di usia itu kita masih gemar berkejaran seperti rusa mabuk!” kenang Daryo, wajah tuanya masih tampak muda, kacamata bundar sedikit bergeser dari hidungnya yang bengkok , ia lagi-lagi mengirimkan senyum damai pada Gredan yang melongo menatapi sahabatnya itu.

“Sejak saat itu aku berjuang Gre. Yah! Selama seminggu aku disiksa namun aku bangkit. Kabur dari markas mengerikan itu. Awal karirku. Awal lencanaku yang pasti karena keberanianku.” Daryo menyombongkan dirinya didepan Gredan yang mendadak tuli dan acuh.
“Aku sampai sekarang tak mengerti mengapa aku saat itu menderita juga sepertimu.” suaranya pelan seperti bergumam pada diri sendiri, rambut pirang kombinasi putih ubannya tertiup angin dan terpantul cahaya matahari menghasilkan efek pendar keemasan.
“Ah ya, Kau Belanda. Aku hampir lupa.” Daryo  menjawab sedikit ketus.
Mereka berdua tak hentinya berdebat hingga malam menjemput. Nyanyian jangkrik menjadi pengiring nostalgia mereka.
Tepat 63 tahun yang lalu mereka dipertemukan dalam kondisi berat, ketika Gredan dibuang oleh keluarga pirangnya karena berkhianat pada darahnya sendiri. Stasiun kereta Gambara menjadi saksi bisu pertemuan yang menjadi awal persahabatan mereka. Dua dunia, perbedaan begitu kental menyelimuti. Mereka bagaikan musuh yang siap menerkam. Namun kenyataannya mereka saling melembutkan, menguatkan dan mengokohkan.
Daryo sosok yang tegar, ia hidup sebatang kara di tanah ibu pertiwi sebagai gelandangan turun ke jalan yang memiliki keberanian sebesar singa. Terlihat kegagahan di usianya yang masih muda walaupun dalam balutan baju sobek-sobek. Kharismanya memancar membuat sang anak penjajah begitu terpana pada pribumi yang kuat seperti Daryo.
Pandangan mata mereka bertemu. Tatapan Daryo merasuk memenuhi relung Gredan. “Ceklek!” pintu hatinya terbuka ketika lama sudah ia tertelungkup sembunyi dalam kesendirian tanpa gairah. Ia yakin Daryo merupakan paket kiriman dari Tuhan sebagai pencerah hidupnya, ditengah keputusasaannya sebagai anak terbuang.
Pada kenyataaanya mereka benar-benar saling menguatkan dalam keadaan terpisah sekalipun, terkungkung oleh bala tentara jahannam. Mereka tak pernah bertemu lagi sejak itu, meneruskan perjuangan hidup sendiri-sendiri, menelusuri jalan setapak curam menuju kemerdekaan, kesukacitaan dan kebahagiaan. Saat itu Gredan yang keberaniannya hanya sebesar otak tikus berharap diistemewakan karena darahnya, gennya yang mencolok dapat menipu seakan-akan ia sebagai pihak pembuat bencana yang menjajah negeri subur ini. Namun diluar dugaan, ia berharap terlalu indah. Ketika ditangkap ia disiksa bagaikan binatang, kakinya dirantai. Dijadikan budak “permata” selama bertahun-tahun dan diolok-olok karena fisiknya yang berkhianat.
“Mereka menendangku berkali-kali Dar, mereka benar-benar membenciku. Namun untungnya aku tak sampai tewas.” Ujar Gredan dengan sedikit gelak namun gelak yang kecut.
“Sebenarnya mereka semua saudaramu Gre, aku sudah yakin sejak awal kau pasti baik-baik saja.”
“Tetap saja aku ingin kabur dari tempat busuk itu!”
Penderitaan Gredan lenyap ketika ia berhasil diselamatkan oleh sekumpulan pejuang pemberani bersenjata kayu menebas penjara siksaannya dan membawa pergi Gredan sejauh-jauhnya. Melatih Gredan menjadi pejuang pribumi dan menjadikannya sosok yang begitu pemberani. Perjuangannya begitu terkenal karena fisiknya yang menipu dan menentang. Ikat merah putih selalu setia memeluk erat kepalanya ketika bertempur dan bergerilya. Menjalankan amanah sebagai pejuang bagaikan profesi dengan karirnya yang memuncak . Gredan dipercaya sebagai agen rahasia.
Diandalkan sebagai mata-mata, menyusup dan menyamar dengan cerdik memasuki daerah lawan dimana banyak orang-orang yang sama persis dengan fisiknya. Strategi ini selalu berhasil menggempurkan pihak lawan, memperkenalkan sebuah strategi yang ampuh menyiasati minimnya persenjataan. Namun Gredan rela namanya tak pernah tertulis dalam pena sejarah bangsa dan bahkan tak pernah disebut-sebut.
Lain halnya dengan Daryo, kehidupannya penuh dengan peluh, pertempuran yang  banyak terjadi dalam wadah perairan, gempuran ombak-ombak yang menghempaskan tubuhnya, memamerkan otot-otot perkasa dan teriakan-teriakan penuh semangat perjuangan. Menerjang menangkis meriam api sang lawan. Dedikasinya sebagai pejuang tak sepopuler Gredan, hanya sebagai anak buah yang berdiri dalam barisan tak terlihat. Akan tetapi Daryo lebih memiliki pengalaman, pengalaman-pengalaman yang berhadapan dengan maut dan hampir bersalaman dengan maut.
“Negeri ini sudah lama merdeka Gre. Aku bangga telah pontang panting didalamnya”
“Aku sudah merdeka jauh sebelum Indonesia merdeka Dar. Itu karena hadirnya dirimu.”
“Jangan lupa, busungkan dadamu selalu! Perlihatkan bahwa kau adalah seorang yang kuat.” Matanya bergairah meruncing sehingga menusuk bola mata Gredan.   
Semilir angin dingin menggelitik wajah Gredan dan menembus nakal melewati baju sweaternya. Mata Gredan terbuka perlahan dengan kepalanya yang masih mendongak. Langit yang tadi membiru berubah gelap dengan bintang-bintang yang menyebar indah. Ia tadi tertidur. Memimpikan sosok pujaan hati, penyemangat jiwa, Daryo mendatanginya merengkuh bahunya dan mengajak bercanda tawa lagi. Berdebat hebat dalam dua watak yang berbeda. Namun ia tahu itu hanya sekedar mimpi.
Wajah Daryo masih menggelayuti hari-harinya yang kelam. Telah terlewat 20 tahun ia dijemput malaikat maut menemui sang pencipta dan damai disisinya. Tak sempat bersua dan mengecup kening sahabat untuk terakhir kalinya merupakan satu hal yang paling disesali Gredan hingga kini. “Serasa baru kemarin kau meninggalkanku?”
Saat itu Gredan dinyatakan lumpuh oleh dokter, pada saat yang bersamaan Daryo meninggalkan dirinya tanpa pernah bertemu sebelumnya. Mereka terpisah ketika hidup dan dipertemukan lagi dalam kematian. Kesepian Gredan tak pernah terobati. Sekarang hanyalah menyiapkan diri untuk dijemput dalam usianya yang senja dan menari-nari indah menemui sahabat sejati yang begitu dicintainya lebih dari mendiang istrinya sendiri.
“Mimpi yang paling kunanti-nanti, akhirnya kau menemuiku” Gredan membatin. Baginya sosok Daryo merupakan setengah dari kehidupannya dan jiwanya. Sebagai penggerak energi positif di sepanjang hidupnya.
“Aku tak pernah pergi darimu, Kawan” bisik-bisik sendu menyusup liang telinga Gredan.  Ia tersentak kaget. Kemudian tersenyum kembali mengenang.

“Ahh, Pitak!”

KAKEK EMAS

Kakek Emas
Debu berterbangan menyebar ke udara akibat sapuan seorang penyapu jalanan bertopi jingga ditengah panas terik yang menyengat menjadi perhatian Gea. Gadis itu duduk termangu di sebuah halte penuh dengan coretan dan kelupasan cat biru di kanopinya serta keropos pada sepasang tiang penyangganya.
Disamping Gea duduk seorang pemuda acak-acakan yang sedang menghisap rokoknya sambil menatap lesu ke sepanjang jalan arteri yang ramai dengan kendaraan ibukota. Gea mengalihkan pandangannya pada seorang ibu berkerudung sambil menggandeng seorang anak laki-laki berseragam SD. Anak itu merengek karena kepanasan dan keletihan sambil memeluk perutnya meringis, si Ibu pun mengomel pelan menentang rengekan anaknya.
“Sabar dek, ibu juga capek !”
Gea melirik pergelangan tangannya yang putih dibalik kacamata gagang merah muda yang bertengger manis dihidung mancungnya dan membatasi mata sipitnya.
“Astaga, jamku mati!” Gea mengumpat pelan, suaranya memancing seorang pria yang tiba-tiba menoleh, menatap sebentar kemudian berpaling lagi, acuh.
Pria itu berpenampilan rapi dengan kemeja abu-abu yang tepat berdiri didepan ia duduk dan menghalangi sedikit pandangannya pada jalan yang padat dan sibuk. Pria itu mengepit beberapa map diketiaknya. Gea melihat keringat yang merembes di kemeja belakangnya seperti sebuah cetakan berbentuk oval. Pria itu kemudian bersandar letih di tiang. Mungkin sedang mencari pekerjaan. Batin Gea menebak.
Keempat orang yang ada dihalte itu jelas mempunyai tujuan yang berbeda-beda namun bersama dengan Gea mereka menunggu bis yang sama. Penuh harap ditengah kelesuan dan kepadatan ibukota yang menyesakkan.
Ketika ia masih memperhatikan iba tukang sapu jalanan, dari kejauhan Gea melihat bis yang semakin merapat ke halte. Gea berdiri semangat menanti bis yang sudah penuh sesak itu.
Ibu bersama anaknya lah yang paling cekatan memasuki bis disusul dengan pria pelamar kerja dan kemudian Gea. Rambut panjangnya  berkibar sedikit dan kembali lesu ketika sudah berada di dalam bis yang sesak.
Ketika bis sudah mulai berjalan perlahan, entah mengapa perasaan Gea heran campur kecewa ketika pemuda yang lusuh dengan rokok yang sudah diinjaknya kembali duduk termenung di sudut halte. Tatapannya lurus. Seperti banyak masalah.
Kenapa dengan orang itu ? apa masalahnya sampai-sampai tak jadi naik bis ini? tanya Gea dalam hati, namun ia tahu pertanyaan itu sekedar pertanyaan tanpa jawaban.
Di dalam bis ia pasrah berdiri dan jarinya terpancang pada pegangan gelang- gelang langit-langit bis.  Sebenarnya ia tak kuat, dari pagi sebelum berangkat kuliaj ia belum sarapan dan sampai matahari tepat berada di atas kepala iapun masih seperti puasa. 
Tiba-tiba pandangannya kabur dan serasa berputar-putar, ia mati rasa dan lemas, kepalanya terjungkal kebelakang seperti tak memiliki berat lagi. Anemianya kambuh.
“Mbak tidak apa-apa?” tanya wanita yang berdiri disampingnya sangat khawatir melihat Gea secepat kilat kembali berdiri seperti tidak terjadi apa-apa.
“Hanya ngantuk. Terima kasih.” Gea berbohong. Ia tak ingin membuat orang khawatir.
Deru bis tertutupi oleh suara-suara kendaraan hilir mudik melewati dan mengiringi bis yang dinaiki Gea. Ketika Gea melamun tiba-tiba saja ada yang menepuk pundaknya. Sekuat tenaga ia menoleh dan berusaha fokus menatap orang yang menepuknya.
“Ikut saya kebelakang dek”  suaranya parau. Seorang kakek tersenyum ramah dan memegang erat lengan Gea, menariknya perlahan menerobos orang-orang yang sedang berdiri bergantung. Gea menurut saja tanpa berpikir panjang. Badannya sudah lemas dan ia juga tak dapat memberontak.
Sesampainya disudut tempat duduk paling belakang kakek itu menyingkirkan tas kusam miliknya dan tersedialah tempat duduk kosong. Sambil tetap tersenyum ia menggerakan tangannya mengisyaratkan Gea untuk duduk.
“Hahh!” Gea bengong, namun dengan penglihatannya yang samar-samar itu tentu saja tak dapat merekayasa apa yang baru saja dilakukan kakek itu. Penampilan fisiknya pun sudah tak begitu kuat lagi. Ia tak percaya.
“Silahkan duduk saja, sepertinya anda lebih membutuhkan tempat duduk daripada saya.”
Sekali lagi Gea menatap orang tua itu tak percaya, namun ia dengan mudahnya mehempaskan tubuhnya ke kursi itu dalam hati bersyukur. Gea bingung, bagaimana bisa kakek itu tahu ia sedang sakit. Jangan-jangan orang ini peramal atau malah dokter. Batin Gea ngoceh.
Laki-laki renta itu kini sedang berdiri agak bungkuk sambil memegang erat tasnya. Peluh membasahi lehernya, wajahnya keras dengan lekukan keriput keriput tajam di sekitar mata dan pelipisnya. Ketika ia berkedip tersirat aura renta dan muram namun memancarkan pendar keemasan dan ketenangan batin bagi yang melihatnya. Wajahnya sudah terpatri permanen sebuah senyuman. Bahkan ketika ia diam.
Seperti patung yang hidup, kakek itu tiba-tiba bergerak dan merogoh bagian dalam tasnya mengeluarkan sebuah botol air mineral yang masih tersegel. Dengan ramah menawarkan pada anak laki-laki bersama ibunya tadi. Gea tersadar anak itu sedari tadi memegangi tenggorokannya seperti sedang tercekat.
“Adik mau minum? Ini ambil punya saya.” Anak itu ragu melihat tatapan ibunya yang curiga dengan segala pikiran negatif. Akhinya dengan hasutan Sang Ibu, anak itu menolak dengan nada yakin. Bibir keringnya mengatup kecewa kentara sekali sangat kehausan. Melihat ekspresi itu, Sang kakek hanya tersenyum dan memasukkan kembali botol air minumnya. Tak ada kekecewaan. Hanya ada suatu pemahaman yang wajar.
Tiba-tiba Gea berdiri dan mencegah botol itu kembali dimasukkan ke dalam tas.
“Permisi ibu dan adik, saya tahu anak ibu sangat haus.” Gea terhenti sebentar menarik napas dan melanjutkan dengan tatapan heran kakek itu.
“Ini Kakek saya ingin membantu kok malah ditolak, kebetulan beliau sedang puasa”  untuk kedua kalinya Gea berbohong. Sekali lagi kakek itu tersenyum menatap Gea dan tanpa ada keraguan kembali menyodorkan air mineral itu
“Terima kasih Kek!” jawab anak itu langsung menyambar air yang begitu menggiurkan baginya.
Kali ini pusing dan sakit Gea hilang, segala kepenatan menjalani hari ini dan keluhan-keluhannya sirna. Menyaksikan seorang manusia mulia yang ikhlas membantu dan begitu perhatian terhadap orang-orang disekelilingnya. Peka terhadap segala bentuk kesusahan orang lain sekecil apapun.
Saat ini Gea merasa kecil, ia tentu saja masih belum mampu menjadi seperti bapak itu ,setulus itu memberi tanpa menghiaraukan reaksi orang yang diberi. Tanpa disadari butiran air keluar dari pelupuk matanya, ia sangat terharu melihat bapak itu dan teringat akan mendiang almarhum kakek yang sangat dicintainya.
“Hal kecil yang bisa aku lakukan saat ini hanyalah mencegah orang lain menolak kebaikan orang yang tulus ingin menolong.” Bisik Gea kepada dirinya sendiri. Ia merasa damai dengan sosok renta yang masih berdiri dihadapannya tersenyum menatap lurus pemandangan ramai kota dari jendela bis.